2015 Dengan Kata : Louis Van Gagal

Tulisan ini adalah tulisan part 2 refleksi saya akan tahun 2015, yang kali ini saya buat dalam rangka keprihatinan saya dengan penampilan Manchester United sepanjang tahun 2015. Lebih-lebih lagi kemarin MU baru saja dikalahkan stoke city 2-0, which is third lose in a row in EPL, fourth in all competitions, and last seven matches without winning (with just 3 win over 13 matches) . Kok niat amat ampe bikin tulisan? iya buat saya, yang sudah 17 tahun menyukai MU, sekarang udah sedih melihat permainan MU jika dibandingkan dengan era Sir Alex dulu. Juga saya ingin mencari fakta, penyebab mengapa kok MU sekarang bisa melempem. Karena itu saya akan mengulas penampilan setan merah berdasarkan fakta statistik pertandingan paruh musim pertama 2015-2016, beserta fakta-fakta lain yang menarik untuk dibahas dari gelaran liga sepak bola terpanas ini. And also, no offense untuk para fans MU lainnya karena saya yakin saya pun true fans MU. Tulisan ini murni hanya kritik dan analisis saya yang sekarang udah-maaf-bosen nonton MU main. Judul artikel semata-mata supaya menarik perhatian.

Formations : 4-2-3-1

Musim ini Van Gaal sering sekali bermain dengan formasi ini, bereksperimen dari 4-3-3 musim lalu yang tampaknya tidak begitu memuaskan LVG. Dengan formasi 4-2-3-1 ini, seharusnya Anthony Martial dipasang sebagai striker, dengan sokongan bola dari 1 gelandang serang dan 2 sayap. Di awal musim saya berpikir formasi ini akan menempatkan Depay dan Januzaj di sayap, Juan Mata sebagai central playmaker, dan Rooney target man. Setelah Martial datang, idealnya LVG memilih antara Rooney atau Martial saja, namun nyatanya kedua nya sering bermain bersamaan, dan celakanya, none of them play as striker ( on the pitch) karena Rooney kembali dipaksakan berperan sebagai classic no 10 play. Yang ada malah Fellaini jadi striker ! Dan Januzaj yang saya pikir akan mulai berkembang, malah dipinjamkan ke Dortmund. Alhasil Juan Mata sering bermain sebagai sayap kanan and I see that he doesn’t suit that role.

Best Formation?

Untuk 2 orang di tengah, United punya banyak pilihan setelah 2 musim terakhir ini memborong banyak water carrier. Mulai dari pemain anyar sekaliber Schweinsteiger, rising star dari southampton Schneiderlin, dan pemain seharga € 36m Ander Herrera, tentu bisa dipasang disini. Daley Blind dan Fellaini pun harusnya dapat bermain di posisi ini, Dan jangan lupakan pemain terbaik MU saat terakhir menjadi juara liga di tahun 2013 lalu : Michael Carrick. LVG seharusnya tidak perlu bingung mncari pemain untuk mengisi 2 orang sebagai jenderal lapangan tengah.

Beda dengan pemain tengah yang bejibun, LVG tidak punya banyak pilihan untuk pemain belakang. Setelah Luke Shaw cedera panjang, he doesn’t even have another option ! akhirnya Ashley Young dan Blind sering dipaksakan bermain di posisi ini. Darmian yang seharusnya di kanan terkadang juga dipasang disini. Namun setelah Valencia cedera, Darmian lah mau tidak mau menjadi right full back. Celakanya, Darmian juga sekarang cedera. Alhasil Guillermo Varela pun terpaksa dimainkan. Lebih parah untuk bek sayap kiri, 1997 born youngster menjalani debutnya saat melawan WestBrom : Cameron Borthwick Jackson. Who the fuck is he playing for United’s first team while just 18 years old ?!

18 y.o. Youngster

Untuk bek tengah, LVG juga kelabakan saat Rojo dan Jones cedera – dan Smalling pun sempat absen. Blind atau Carrick sudah tidak aneh bermain di posisi ini saat ga ada pilihan lain. Patrick McNair melempem, jelek. Beruntung Smalling main cukup bagus hingga United bisa cleansheet 7 kali.

Kesimpulannya untuk formasi, Van Gaal sudah tepat bermain dengan posisi 4-2-3-1 jika melihat resource United sekarang. Kesalahannya adalah, terlalu banyak rotasi pemain dan rotasi posisi khususnya untuk pemain depan. Kalau formasi ideal MU sekarang, buat saya, Rooney udah gausah dipaksain main lagi. Martial pasang sebagai striker, Mata playmaker, Depay right winger, dan Ashley Young left winger. Yes seriously, Ashley Young tidak punya naluri bertahan sama sekali. Kalau Januzaj udah balik, mungkin dia bisa di kanan dan Depay di kiri. Lingard dan Ashley Young jadi pelapis.

Tapi kalau memang LVG harus memainkan sang kapten sekaligus Martial, mau tidak mau harus ganti formasi jadi 4-4-2 dengan Rooney dipasangkan dengan Martial. Formasi ini sudah terbukti bagus diperagakan oleh underdog Leicester (Vardy-Okazaki/Ulloa) dan Watford (Deeney/Ighalo). Hanya memang 4-2-3-1 ini adalah formasi ‘aman’ dan cenderung lebih sering dimainkan oleh tim-tim besar yang cari aman. Sebelum boxing day, MU, Arsenal dan Tottenham adalah penganut 4-2-3-1 dan terbukti 3 tim ini gawangnya paling aman dari kejebolan. Tapi untuk menjadi tim produktif mencetak gol, rasanya City, Everton, dan Leicester lebih sukses dengan 4-4-2 atau 4-3-3.

Satu pesan untuk Van Gaal, berhentilah bereksperimen dengan posisi pemain. Jangan pikir kesuksesan mentransformasi schweinsteiger dari winger menjadi gelandang tengah di Munchen dulu bisa dipraktikkan pada rooney, blind, mata, dkk.

Style of Play : Total Footbal

Beranjak dari formasi, sebetulnya formasi yang tidak bagus seharusnya diimbangi dengan gaya bermain yang match. Menurut wikipedia : “Total Football (Dutch: totaalvoetbal) is the label given to an influential tactical theory of football in which any outfield player can take over the role of any other player in a team.” And LVG perfectly implements that practice to MU players. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, role pemain seringkali berganti dari kanan ke kiri, dari depan ke belakang. Formasi seperti ini sejatinya diperkenalkan dan diperagakan oleh timnas Belanda pada tahun 60-70an. But come on, total football is very difficult style. Tidak semua pemain mempunyai naluri yang sama baiknya untuk bertahan dan menyerang. Blind menjadi contoh yang paling dipaksakan di MU karena banyak sekali posisi yang sudah pernah dia tempati. Ambil lagi contoh Ashley Young yang oleh Fergie selalu ditempatkan di kiri depan sebagai winger. Kini, meski memang karena terpaksa, Young sering dijadikan full back. Bahkan pernah di kanan! Tidak heran MU gampang kecolongan karena bek nya bukanlah pemain yang asli bertahan. Ambil lagi contoh Juan Mata, yang kadang di kiri, kadang tengah, kadang kanan. Tentu sulit untuk Mata yang sudah tidak selincah dulu, jika selalu bermain memanfaatkan lebar lapangan.

Lalu, apa sih impact dari total football ini ? mari kita lihat statistik di bawah

source : whoscored.com

source : whoscored.com

Dari statistik diatas terlihat jelas bagaimana MU dan Arsenal menguasai permainan dengan posession ball yang tinggi. Inilah salah satu ‘keuntungan’ dari total football. Dengan penguasaan bola yang tinggi, tim menjadi dapat mengontrol tempo permainan. Hal ini sebanding dengan statistik baik lainnya, untuk Arsenal. Tentu karena Wenger telah menerapkan ini sejak lama di Arsenal. Ozil menjalankan peran dengan baik dan kini menjadi king assist di EPL. Dikutip dari sini

Possession Football – Also known as ‘tiki-taka’ advocated by many managers from Johan Cruyff to Louis Van Gaal, Arsene Wenger, Pep Guardiola, and Vicente Del Bosque. This type of football is used best by Barcelona, Spain and Arsenal. These teams aim to retain possession of the ball for most of the game by utilising many low-risk passes and drawing the opposition out of shape before exploiting any gaps they leave behind with a gradual pass and move strategy. Technically and tactically gifted players are needed for this style.

Gaya bermain total football adalah gaya bermain dimana pemain tengah-dan bek- banyak memainkan bola, saling berotasi mengisi posisi kosong, saling meminta bola, memancing pemain lawan keluar dari sarangnya. Tugas pemain depan dan winger adalah aktif mencari posisi dan sesekali turun ke belakang menjemput bola. Ketika  lawan lengah, ada celah kosong, dan “BANG!!” tiba-tiba David Villa, Suarez, Giroud, atau Wallcot ada di depan. Fabregas, Xavi, atau Cazorla seakan-akan dapat melihat ke arah mana saja semua rekannya berlari. Gelandang semacam ini benar-benar dibutuhkan pada gaya bermain total football. Kalau di MU, mungkin Juan Mata dan Carrick harus digabung ya.

Boleh-boleh saja LVG menerapkan formasi ini. Tapi bukan di Manchester United tempatnya, menurut saya. MU kini benar-benar kekurangan pemain yang kreatif membuat peluang, dan lihai melihat posisi kosong. Kalau di barca, setelah lama memainkan bola di tengah, messi atau neymar akan sedikit turun untuk menjemput bola, lalu menyerang dengan umpan satu dua, atau mendapat through ball. Di MU saya rasa, dari permainan melawan stoke kemarin, sangat buruk. Setelah memainkan penguasaan bola di tengah, memancing pemain lawan keluar, 3 orang malah menunggu di dalam kotak penalti menunggu umpan lambung ! Poor playing. Terbukti dari statistik dibawah, jumlah long balls per game MU hanya kalah banyak dari WBA, yang memang hanya mengandalkan long ball ataqs intsruksi Tony Pulis.

Source : whoscored.com

Source : whoscored.com

Untuk jumlah short passed, MU ada di posisi ketiga dibawah Arsenal dan Man City dan diatas Chelsea. Untuk ketiga tim terakhir, jumlah through ball sebanding dengan jumlah passing dan gaya permainan mereka. Lima umpan terobosan setiap pertandingan untuk Arsenal, 3 untuk city, dan 2 untuk Chelsea. MU hanya satu. Fakta lainnya membuktikan bahwa dari 22 gol yang diciptakan MU, tidak ada satupun yang berasal dari counter attack, dan hanya 2 yang berasal dari set piece.

Source : whoscored.com

Source : whoscored.com

Statistik lainnya yang membuktikan bahwa penyerang MU kurang kreatif mencari ruang adalah bahwa action zones di area lawan terbanyak dimiliki MU yaitu sebanyak 32%, sedangkan pemain MU menguasai bola di area sendiri hanya 22%. Namun dengan penguasaan bola sebanyak itu diwilayah lawan, hanya 5% shot by United in 6 yards box and 51% in 18 yards box. Bandingkan dengan Arsenal, total 71% shot di dalam kotak penalti. City 60%, dan Leicester 65%. Kemudian coba simak offensive statistik di bawah ini

Source : whoscored.com

Source : whoscored.com

Waw, jumlah dribbles per game MU hanya 8.9 , bahkan kalah Stoke City dengan 10.1 Dpg. Bahkan untuk total shots per game, MU hanya ada di peringkat ke 16 dengan 11.1 shots! sama dengan juru kunci klasemen, Aston Villa. Dengan adanya pemain sekelas Depay, Martial, Mata, dan Rooney, seharusnya statistik offensive red devils bisa lebih baik dari ini.

Source : whoscored.com

Source : whoscored.com

Ada yang membuat saya lebih kaget yaitu rating defense MU hanya menampati peringkat 12. Padahal tim dengan ‘gawang aman’ lainnya Arsenal memuncaki rating defense. Sedangkan Tottenham ke 3. Bahkan, the most  goal conceded team in big 10, Leicester yang sudah jebol 25 kali defensive ratingnya menampati peringkat 2. Kok bisa? Ternyata jika diurut berdasarkan jumlah interceptions, MU hanya ada di peringkat 15 dan berdasarkan jumlah tackles 10. Sedangkan Leicester? The top of tackles and interceptions. So, MU hasil 7 cleansheet ini saya rasa bukan karena pemain bertahan yang bagus dan solid, melainkan karena jarang diserang. Sekalinya diserang, hanya De Gea lah yang dapat diandalkan.

Untuk defensive, saya akui Van Gaal menerapkan total football dengan baik sih. Karena jika dengan gaya bermain lain dan resource yang kurang seperti sekarang, mungkin MU akan jebol lebih dari 20. Ataukah mungkin Van Gaal memang memainkan posession-boring-football dengan tujuan untuk bertahan? jika ya, maka LVG sukses. Jika tidak, then he’ll be definiteky sacked.

Udah ah. Kayaknya bakal ada tulisan tentang MU part 2, dimanasaya akan membahas soal transfer pemain era Moyes-LVG, dan ulasan paruh musim EPL.

See ya

Adit

Me, been loving soccer and MU since Habibi era. Tapi fotonya pake baju Inter 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s