Ode To My Father

 

Setelah nonton film ini, saya jadi makin yakin untuk lebih memilih film Korea, Jepang, atau Thailand daripada film barat. Disamping saya memang suka budaya timur, saya rasa film-film dari Negara ini lebih mudah dimengerti dan lebih mampu membuat penonton terbawa emosi dibanding film barat. So I will likely stop watching Hollywood in cinema, and it’s good to save money 😀 , ya unless film yang benar-benar blockbuster atau rame-rame sama temen sih.

Ode To My Father / 국 제 시 장 (International Market)  adalah film dari negeri ginseng yang rilis di penghujung tahun 2014. Kurang dari satu bulan setelah rilis, Ode To My Father sudah mampu menarik penonton sebanyak 10 juta orang. Hingga kini, film ini menempati posisi 2 highest-grossing film by admission di Korea Selatan, hanya kalah 3 juta tiket dari The Admiral yang mampu menjual 17 juta tiket dan rilis di tahun yang sama. Sutradara Ode To My Father, Yoon Je-Kyoon, ternyata orang yang juga mengarsiteki film Haeundae yang juga mampu menjual lebih dari 10 juta tiket.

Film ini mengingatkan saya pada sebuah film fenomenal Hollywood Forrest Gump, but in different way of delivering the messages. Ya seperti Forrest Gump, film ini juga menceritakan kisah hidup seseorang di beberapa dekade. Bedanya, film ini kental sejarah dan budaya Korea Selatan sehingga saya merasa lebih terbawa ke dalam latar waktu dan tempat filmnya.

Plot

So the story begins in 1951 during Hungnam Evacuation, Hungnam, a place which latter has become part of North Korea. Saat itu Cina sedang menginvasi Korea sehingga penduduk setempat harus mengungsi menggunakan kapal milik Amerika. Deok Soo, seorang anak kecil biasa juga melarikan diri bersama keluarganya sambil menggendong seorang adik perempuannnya yang bernama Mak-Soon. Mak-Soon yang sedang digendong di punggung Deok Soo kemudian terlepas dan jatuh dari kapal ke laut. Ayah mereka yang mengetahui itu akhirnya turun ke bawah untuk mencari Mak-Soon. Namun alih-alih menemukan anaknya, mereka akhirnya tertinggal kapal dan terpisah dari keluarga. Pada pertemuan terakhir dengan Deok Soo, sang ayah menitipkan sebuah pesan pada Deok Soo bahwa ia akan menjadi kepala keluarga saat si ayah tidak ada. Pesan itu lah yang akhirnya menjadikan Deok Soo menjalani berbagai dekade hidupnya dengan kerja keras dan penuh warna.

Deok Soo kecil bersama ibu dan 2 orang adiknya tinggal di Busan bersama tantenya setelah kejadian di Hungnam. Deok Soo melakukan berbagai pekerjaan untuk mendapatkan uang. Saat ia dewasa, a lifetime friend, Dal Gu, mengajaknya untuk ke Jerman mencari uang sebagai penambang, kuli tambang sih lebih tepatnya karena bekerja ngebor batu di gua bawah tanah. Disanalah dia bertemu seorang perempuan yang juga Korea dan akhirnya menjadi istrinya.

Baigan-bagian mengharukan penuh emosi kebanyakan terjadi at second part of film. Puncaknya yaitu diceritakan pada tahun 1983, saat itu di Korea terdapat sebuah program stasiun tv yang mengadakan event, bertujuan untuk membuat keluarga yang terpisah saat chaos perang Korea, dapat bersatu kembali atau istilahnya reunite. Disanalah Deok-Soo mencari ayahnya yang terpisah puluhan tahun silam, berharap ayahnya masih hidup dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga. Apakah akhirnya ayah Deok-Soo ditemukan? Just watch it

Review

I must admit that I’m a big fan of Korean Movie and I like this genre pretty much, second after thriller (yeah it’s different 180o) . Meskipun ada latar di medan perang, tunnel explosion scene, tapi film ini mostly melodrama yang menceritakan tentang kerja keras dan pengorbanan seorang laki-laki menghidupi keluarganya. Film ini memilki nilai histori tentang Korea Selatan dan punya elemen-elemen personal untuk warganya. Saya yang bukan orang Korea saja merasa terbawa dengan cerita ini, apalagi orang asli sana, apalagi orang asli sana yang sempat merasakan sejarah tersebut.

Sangat tak disangkal sih kalau Tom Hanks really play a good role as Forrest Gump dari masa ke masa. I would say Ode To My Father has  a Forrest-Gump-feel as we follow the life of a man through his extraordinary experiences over the decades. Pemeran Deok-Soo, Hwang Jung Min, saya akui biasa saja karena memang perannya saya rasa tidak sulit, memainkan watak just-ordinary-man in his age. Tapi seperti saya bilang tadi this movie or any other Korean Movie delivers the messages in different way from Forrest Gump or any other Hollywood movie.

Forrest Gump tujuan ceritanya cukup jelas, but mostly diceritakan dengan tensi yang datar sehingga saya harus sabar untuk menunggu klimaks keren di akhir-akhir, dan sebentar, dan harus mikir sedikit. Tipikal film barat memang ya. Kalo film korea semacam ini fokus ceritanya tampak sederhana. Dari awal sampai akhir ada bagian-bagian yang tak bisa dilewatkan, semacam semi-klimaks. Arsitek film korea mungkin memang bertujuan agar penontonnya tak memalingkan mata sedikitpun dari layar dengan cara menghadirkan cerita yang penuh emosi sejak awal, and it did well for me.

Puncaknya film ini adalah tearjerking scene yaitu saat momen reuni keluarga akibat Korean-war. Momen reuni super emosional dieksploitasi dengan baik, membuat film ini tak ragu lagi merupakan tipikal Korean tearjerking drama. And this, make me feel my second teardrop caused by watching movie. But I’m delighted that this movie doesn’t make people cry because of the main actor DIE-I hate this much. Yap, film ini tidak mengumbar tangisan dengan cara murahan melainkan dengan haru kesenangan, which is good and not easy. The easiest way is KILL THE MAIN ROLE.

Mungkin satu kelemahan yang bisa saya temukan di Ode To My Father adalah tujuan film. Bukan tujuan untuk menyampaikan nilai ya, but a whole goal of this movie. Not why should we watch this movie, but why the story in this movie, could happen. Actually film ini tidak bermula di tahun 1950, tapi di zaman kini dengan Deok-Soo tua yang flash back ke masa lalunya. Jadi saya tidak menemukan apa tujuannya Deok-Soo tua harus flash back ke masa lalu. Jadi penonton seakan-akan disuruh untuk flash back saja ke masa lalu untuk melihat perihnya hidup dan mendapat petuah-petuah lawas. And it gives me no idea why the modern scene have to be in the story.

To conclude, I think this film is entertaining, stirring, and has educational value. Saya merekomendasikan Ode To My Father untuk orang yang suka korea, dan suka film-film yang emosional. Saya kagum sama film ini karena bahkan tidak ada peran antagonis utama, dan actor utama tidak mati. Rating 9/10.

Ode to My Father
Directed by Yoon Je-kyoon
Produced by Yoon Je-kyoon
Park Ji-seong
Written by Park Su-jin
Starring Hwang Jung-min
Yunjin Kim
Music by Lee Byung-woo
Cinematography Choi Young-hwan
Edited by Lee Jin
Distributed by CJ Entertainment[1]
Release dates
  • December 17, 2014
Running time
126 minutes
Country South Korea
Language Korean
English
German
Vietnamese
Budget US$13.1 million
Box office US$105 million[2]
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s