Langit-langit…

Selalu ada yang dapat direnungkan ketika gelap. Binar selalu menuntun untuk terus maju mengejar asal mulanya. Namun dalam gelita, sama sekali tak tentu arah kita melangkah. Hening membuat manusia racau pada benaknya sendiri. Ternyata gelap dan senyap adalah cermin diri yang paling sempurna.

Entah mengapa mata ini sulit saja terpejam. Apakah mungkin lelah tak lagi butuh rebah sebagai jawaban? Atau gelisah yang jadi gara-gara? Biar aku cerita cita dan cinta?

Baiklah…

“Gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Orang tua dan gurumu, atau paling tidak bukumu, selalu bilang begitu. Sungguh mulia menaruh impian kita diatas awan. Semua orang dapat melihat cita-citamu, bersanding dengan suryanya siang dan bulannya malam. Selalu ada disana agar tak sedetik pun kamu lupa untuk terus berusaha meraihnya. Kelak akan terpesona orang semua melihatnya. Tak dapat melihat tanpa mendongak, karena kamu telah lebih tinggi dari mereka.

Namun sudahkah kau temukan caranya agar bisa mencapai ke atas sana? langit dimana kamu titipkan angan-angan? Jangan mereka kamu ada disana kalau belum punya sayap.

Kemudian tiba juga, dapatkah kamu bersandar diatas awan sana? Jika dapat bersandar, adakah orang yang dapat merangkul, ah, melihatmu saja, yang telah jauh terpisah dari mereka?

Celaka.. kamu juga tak bisa mengukur sudah sejauh mana kamu berjalan, dan berapa jauhnya lagi, karena langit di awang-awang, begitu jauh. Jangan menyesal karena cita-citamu hanya satu, dan itu di langit. Tanyakan pada gurumu dulu, mengapa harus menggantungkan cita-cita setinggi langit, tidak langit-langit.

Empat tahun lalu aku mulai gantungkan cita-cita setinggi langit-langit. Katanya rendah sekali mimpiku. Padahal dengan langit-langit ini, kamu dapat terus memantau sudah tumbuh setinggi apa. Goresan di dinding akan cukup menjadi bukti perkembangannya. Dengan alamat yang terlihat, jelas aku tau apa yang dibutuhkan untuk dapat menyentuhkan telapak tangan ke langit-langit… Juga temanmu masih ada di sekitar kan, saat kamu di langit-langit?

Saat di langit-langit, aku cukup lebih tinggi dari sekitarku, dan masih dapat menikmati buana. Perlu cari saja langit-langit lainnya yang lebih tinggi supaya aku tetap bertumbuh. Jikapun salah rumah, belum banyak waktumu terbuang habis. Cukup cari rumah yang tepat dengan langit-langitnya yang dapat digantungi cita-citamu, lalu bersandar disana untuk menyiapkan dirimu diangkat ke langit, yang sebenarnya.

Kosan, 15-9-11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s