Kerangka Berpikir

Pojok kanan bawah, layar laptop saya menyuratkan saya tidak punya banyak waktu untuk dapat menulis pagi ini. But let me try.

Kerja (1)

Sudah lama ingin saya tulis tentang ini. Hanya curahan hati, sebab bisa jadi pembaca akan tidak setuju dengan sebagian atau seluruh tulisan ini yang subjektif. Ini pandangan saya saja. Kebetulan ada momen. Senior, sebaya, dan mostly adik kelas kampus almamater saya baru saja menamatkan perjuangannya keluar dari Ganeca 10. Ribuan otak cerdas, kini segar dan liar.

Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja untuk perusahaan saya yang sekarang, sebuah perusahaan multi nasional yang menurut wiki merupakan digital security company. Setelah 9 bulan, saya bulatkan keinginan saya untuk resign dari perusahaan. Ya, tidak sampai setahun, dan kemungkinan besar tidak akan ada perusahaan yang ingin merekrut 9 months tenure sebagai experienced employee. Tapi apakah setahun pun menjamin? 2 tahun? tak pasti.

Kerja dan kuliah adalah dua hal yang sangat, sangat, sangat, berbeda. Satu hal yang benar-benar sama : kita butuh teman. Sama lamanya dengan ibu mengandung. Dalam masa itu, sepertinya tidak kurang dari satu kali satu minggu saya izinkan diri saya berkontemplasi, merenung atas current dan next state saya. Renungan tersebut paling sering terjadi begitu saja saat saya mengendarai motor di Jakarta, yang saking ampasnya hingga membuat 45-60 menit saya di jalan raya tersebut begitu ideal untuk berpikir-pikir. Saya gelisah dalam renungan.

Saya gelisah karena ternyata bekerja itu monoton, setidaknya pekerjaan saya sekarang. Lebih tepatnya kehidupan pekerja. Dalam sehari, 8+1 jam kantor, 1 jam perjalanan, 8 jam tidur. Alhasil hanya 6 jam lah per hari waktu yang kita miliki untuk “hidup”. Tentu cukup untuk saya. Bagaimana jika lalu lintas memaksa menggerutu hingga 3 jam? sementara anak istri menunggu di rumah. Untuk ini kakak saya bilang, “kita kerja untuk hidup, bukan hidup untuk kerja”.

Saya bingung apakah perkuliahan itu benar-benar menyiapkan mahasiswanya untuk siap bekerja. Sepertinya hanya 10% teori yang saya dapat di kuliah, terpakai untuk pekerjaan saya yang sekarang. Rasanya, 4 tahun terlalu lama jika berakhir seperti ini. Entah bagaimana penerapan root locus dalam pekerjaan saya yang sekarang. Sepuluh persen yang tadi itu, pun, tidak merepresentasikan hasil full dari satu-dua kuliah. Maksudnya, 3% berasal dari 20% kuliah X; 2% berasal dari 80% kuliah Y; dan 5% berasal dari 10% kuliah Z. Yang mana berarti kuliah Z harusnya berkontribusi paling banyak untuk kerja. Mengerti? tak apa jika tidak.

Celaka, untuk menulis 367 kata saja butuh waktu satu jam. Sampai jumpa saat saya sudah resmi bukan lagi pegawai kantor yang sekarang !!

Kerja (2)

Tanggal 12. Enam hari jaraknya paragraf ini dengan paragraf sebelumnya. Saya sudah lupa apa yang ingin saya tuliskan seharusnya sebagai kelanjutan dari Kerja (1). Paragraf ini dan selanjutnya saya tik dari lantai 21, kantor saya yang baru. Sebelumnya saya bilang bahwa saya bingung apakah kampus benar-benar menyiapkan produknya untuk bekerja, dan saya merasa ilmu yang saya dapat di kuliah menjadi underutilized. Dari premis diatas, tentu anda akan mengambil silogisme bahwa pekerjaan saya sekarang fully utilizing keilmuan elektro.

Pekerjaan saya yang sebelumnya tidak memungkinkan saya mengisi halaman blog ini dalam jam kerja, bahkan after working hour. Kini banyak yang bisa saya lakukan, seperti membuka search engine nomor 1 dan berbagai keluarannya yang canggih, termasuk second largest search engine, youtube (sumber). Fleksibilitas, juga bisa saya dapatkan sekarang, tentunya dengan tanggung jawab. Jam optimal setiap orang tentu berbeda-beda, tidak seharusnya pekerja dinilai dari lamanya dia duduk menatap layar.

Kembali pada silogisme terakhir, anda pikir sekarang saya dapat memanfaatkan 100% apa yang saya dapat di kuliah? jawabannya tidak. Bahkan bidang pekerjaan saya berbeda, industrinya pun berbeda. Kesamaan yang ada hanya keduanya memanfaatkan teknologi, tech company. Lalu mengapa saya berada pada state yang sekarang? Teman satu tim di kantor, pun kemarin bertanya demikian. Setelah hampir satu tahun bekerja dan sering merenung, kini saya bisa menjawab, “bekerja itu spesifik”.

Di dunia ini, tidak ada orang yang mempunyai semua bakat. Jika pun ada, menurut saya akan lebih terpakai orang yang mempunyai spesialisasi tertentu. Karena bahkan dalam game pun all around player akan tidak lebih dipilih daripada yang mempunyai kekuatan spesial, jurus. Sementara itu, setidaknya di jurusan saya, kegiatan perkuliahan memberikan semuanya. Tidak memiliki fokus. Lantas apakah berarti kampus tidak menyiapkan mahasiswa untuk bekerja? jawaban saya tidak.

Seperti yang saya bilang, bekerja itu spesifik. Mustahil ada satu pekerjaan yang bisa fully utilizing seluruh teori yang didapat di kelas. Untuk menjadi seorang dosen pun membutuhkan fokus tertentu, apalagi bekerja pada perusahaan?

Kemudian mengapa saya pindah bidang? Sia-sia apa yang telah saya pelajari selama 3-4 tahun? tentu tidak. Seperti halnya tidak akan terpakai semua teori kuliahmu di dunia kerja, lantas mengapa salah mencari ilmu baru? adalah beruntung bagi orang yang telah mendefinisikan tujuan hidupnya, cita-citanya, yang dapat dengan yakin menjawab pertanyaan, “Bagaimana kamu menggambarkan dirimu 5 tahun mendatang?”. Yang demikian hanya sekian persen. Sisanya, menurut saya jangan ragu untuk mencoba hal baru. 3-4 tahun bukanlah waktu yang lama dibandingkan dengan lamanya kita akan bekerja hingga tua nanti jika ada umurnya.

Tentu akan menyesal orang yang hanya dapat mengingat teori fourier dalam kuliah electric circuit untuk menjawab pertanyaan dalam ujian dan menanti kabar baik saat pengumuman nilai, kemudian bekerja sebagai konsultan bisnis. Tentu akan sia-sia juga 4 tahun di universitas jika hanya ada interaksi mahasiswa-dosen di dalam kelas kalkulus, kemudian bekerja menjadi manajer SDM perusahaan. Namun 2 contoh tersebut baru akan merasakan manfaat perkuliahan, dan merasakan bahwa mengenyam pendidikan di universitas adalah penting, jika mereka menyadari bahwa kuliah dan kampus dengan segala aktifitasnya telah membentuk kerangka berpikir, paradigma, yang dapat membuat mereka mudah untuk mempelajari ilmu apapun.

Teman

Penutup, saya ingin mengutip perkataan manajer saya ketika berdiskusi soal resignation saya di perusahaan sebelumnya. “Jika dalam hidup ini ada 4 buah bola, maka 1 bola merupakan bola karet sedang 3 bola lainnya adalah kristal. Empat bola tersebut adalah keluarga, pekerjaan, teman sekolah, dan teman bekerja. Bisa kamu tebak bola mana yang karet? Ya, pekerjaan. Saat kamu menjatuhkan bola tersebut, maka dia akan membal, memantul lagi. Namun ketiga bola lainnya, akan pecah ketika jatuh. Sulit bagimu untuk merangkainya kembali.”

Saya amini. Bahkan bola karet akan memantul lebih jauh jika diberikan gaya saat terjun menuju tanah, bukan? Keluarga adalah tempat kembali, tujuan dari kita bekerja, bahkan hidup. Sedangkan tentang teman…, “Walking with a friend in the dark is better than walking alone in the light” – Hellen Keller.

1000 word count on keller. Yay!

Advertisements

2 responses to “Kerangka Berpikir

    • Kenapa harus menggugah aing mbe?
      Kalo bisa aing minta rekomendasi sastra indo aja, buat memperbanyak kosakata hehe
      I’ll look for it anw. Thanks mbek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s