Happy 4 year anniversary, wp

 

Dua hari lalu saya mendapat notifikasi di wordpress mobile, isinya adalah achievement bahwa sudah 4 tahun lamanya blog ini terdaftar. Alhamdulillah laman wordpress ini masih aktif, meskipun saya tak rutin, cenderung jarang menulis.

Tak terasa ya berarti sudah 4 tahun juga sejak saya mengikuti kaderisasi himpunan mahasiswa jurusan, sebab membuat blog ini adalah salah satu tugas dari kaderisasi tersebut. “Tak terasa”. Klise memang, tapi benar adanya bahwa ungkapan itu akan semakin sering kita pakai seiring bertambahnya usia. Tentu saja; sebab semakin kita dewasa, semakin banyak kita makan asam garam dan semakin kita ingat bagaimana rasanya garam tersebut.

Happy 4thTak terasa, puluhan hari sulit Masa Bina Cinta (nama ospek HME ITB) tersebut ternyata sudah 4 tahun berlalu. Rasanya baru kemarin saya mengikuti ospek hingga malam hari, disambung mengerjakan tugas pendahuluan untuk praktikum keesokan paginya, lalu menginap di mushola, dan bangun pagi untuk masuk ke lab yang menegangkan tersebut. Tak terasa hari demi hari berisi kuliah-rapat itu ternyata sudah 3 tahun yang lalu. Tak saya sangka, kuliah puluhan sks ditambah 3 praktikum seminggu itu adalah 2 tahun yang lalu. Tak terasa, setahun pun telah berlalu sejak saya menjabat tangan prof. Akhmaloka. Dan tak terasa sudah 9 bulan lamanya saya memetik sedikit buah dari pohon yang telah saya sirami bertahun-tahun tersebut.

Time really flies. Kini pohon tersebut tak seperti dulu, yang tumbuh lurus ke atas memperkuat batangnya. Yang dapat dengan bebas meminum air dari langit dan menikmati cahaya matahari yang tak pernah padam. Kini ia butuh pupuk, dan bukan perkara mudah memilih pupuk yang tepat agar ia tetap tumbuh. Pohon itu kini memiliki cabang. Bukan satu atau dua, tapi puluhan hingga ratusan cabang hingga saatnya nanti tiba. Entah di cabang yang mana saya dapat menikmati buah yang paling lezat. Entah di cabang mana saya dapat memetik buah paling banyak. Entah di cabang yang panjang dan lurus, atau mungkin pendek tapi banyak diserang hama?

Hingga saat ini, belum pernah saya pikirkan hingga setinggi apa pohon ini akan saya rawat. Belum juga saya resapi dalam-dalam, apa yang terjadi jika ia kering lalu mati? Celakanya, sebenarnya ini pohon apa?

Biarkan waktu terbang, hingga tulisan semacam ini rilis lagi saat ulang tahun ke 7,8, atau berapapun itu. Semoga “tak terasa” selanjutnya manis untuk dikenang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s