AFF 2014 review : waktu istirahat untuk garuda gaek

Sejatinya ajang piala AFF 2014 baru akan berakhir tanggal 20 Desember nanti, namun kini Firman Utina dkk sudah harus pulang ke tanah air. 28 November kemarin, timnas menorehkan kemenangan pertama sekaligus terakhir di kompetisi sepakbola terbesar se-asia tenggara edisi ke-10. Meski 10 orang skuad merah putih mampu menaklukan Laos 5-1, kemenangan tersebut tak dapat mengantar Indonesia lolos ke semifinal karena pada saat yang sama Vietnam mengalahkan Filipina 3-1 sehingga memuncaki klasemen grup A. Filipina menemani Vietnam, sedangkan Indonesia berada di peringkat 3. Ini adalah ketiga kalinya timnas gagal lolos dari fase grup, kedua kali secara berturut-turut.

image

Gagal impian saya nonton timnas di GBK. Tidak heran. Sejak diumumkannya skuad garuda, saya sudah aneh melihat komposisi pemain yang dipilih Alfred Riedl. Sebelumnya mohon maaf kalau saya tidak memberikan nama alternatif untuk mengganti posisi pemain yang saya ragukan berikut. Saya kurang banyak mahfum pemain-pemain klub ISL selain Persib dan tim 8 besar. Beberapa nama yang menurut saya aneh adalah M.Roby, Fachrudin, Rizky Pora, Hariono, dan M.Ridwan. Untuk bek tengah mungkin memang sulit mencari nama lain (klub ISL sangat banyak memakai pemain asing untuk bek tengah), namun siapa pula ini Rizky Pora? Pemain debutan timnas senior ini bahkan tidak berpengalaman di timnas U-sekian, padahal di recent call ups timnas masih ada Diego dan Alfin Tuasalamony yang apik di Asian Games Incheon. Hariono dan Ridwan memang mengangkat trofi ISL beberapa minggu lalu. Meski saya fans Persib, meski Persib juara, saya rasa 2 pemain tersebut tak mumpuni untuk tampil di AFF. Hariono bukanlah pilihan utama di skuad Persib dan histori caps nya pun tidak begitu baik. Sementara itu Ridwan memang tampil bagus bersama Persib musim ini, pun rekor penampilannya di AFF bagus. Tapi usia tak dapat berbohong, Pak Haji Ridwan sudah berusia 34 tahun ! untuk pemain yang beroperasi di sayap, masih banyak nama lain yang masih lebih pantas. Bayu Gatra salah satunya, namun dia dicoret beberapa hari sebelum keberangkatan. Dan jangan lupakan satu nama lagi : Andik Vermansyah. Dengan 4 gol dan 10 assist, Andik mengantar Selangor FA menjadi runner up liga super malaysia. Bagaimana bisa Alfred Riedl tidak memanggil pemain berusia 23 tahun? Bahkan di AFF 2 tahun lalu, saya rasa Andik adalah satu-satunya anak buah Nil Maizar yang bermain lumayan.

image

Keanehan berikutnya adalah di lini depan. Cristian Gonzalez, 38 tahun, ternyata masih mendapat kepercayaan dari Riedl. Pelatih berkebangsaan Austria ini mungkin belum move on sejak mengantarkan Indonesia menjadi runner up AFF 2010, makanya Roby, Ridwan, dan Zulkifli Syukur masih mendapat tempat utama. Nama terakhir bahkan dipercaya sebagai captain! Kenapa ga sekalian aja bawa the legend Bambang Pamungkas yang sudah 6 kali ikutan piala AFF sejak masih bernama piala tiger tahun 2000? Toh BP juga masih bisa mengantarkan PBR jadi semifinalis ISL. Atau, kemana perginya pemain terbaik ISL 2014? Apakah sebuah kesalahan, Ferdinand Sinaga dinobatkan menjadi pemain terbaik liga? Ataukah Riedl, yang sudah 2 tahun lebih meninggalkan Indonesia yang salah? Entah.

image

And the game begin !

Yah pemain sudah dipilih, mari kita dukung sepenuh hati. Biarpun tadi saya bilang aneh melihat komposisi skuad timnas, saya masih menaruh harapan dan optimis timnas kita bisa memetik hasil baik dari Vietnam. Masih ada Van Dijk dan Boas di depan. Duet apik Ridwan-Supardi di Persib juga semoga bisa berlanjut di timnas. Tambah lagi saya tidak sabar menantikan aksi wonderkid garuda muda, Evan Dimas Darmono.

Bela-belain nonton bareng di Bandung, saya menaruh harapan pada 11 orang di lapangan. Melihat starting line up saya cukup kecewa karena Ridwan tidak disandingkan dengan Supardi, karena lagi-lagi Zulkifli dipercaya mengemban ban kapten. Victor Igbonefo juga hanya menempati bangku cadangan. Padahal sejak naturalisasi, Igbonefo selalu mendapat tempat utama, bahkan dipercaya membantu timnas U-23 di Asian Games bersama Ahmad Jufriyanto. Kok malah Roby? Dan ya, permainan timnas sangat, sangat buruk. Seperti tidak berniat untuk mencetak gol karena begitu mendapat bola langsung diumpan dibuang jauh-jauh. Van Dijk yang jago duel udara tampaknya menjadi tumpuan Riedl. Tapi mana bisa striker botak ini bikin gol sundulan dari luar kotak pinalti? Riedl bercanda. Sama sekali tidak terlihat koordinasi antar lini di permainan timnas. No water carrier, and there was no “classic no 10 play” , as well. Maitimo dan Manahati tak berdaya. Ridwan tak mendapat sokongan bermain di sayap. Di babak 1, hanya Zulham Zamrun yang saya liat 1-2 kali mencuri kesempatan untuk menyerang. Terbukti dengan golnya, walau berbau blunder bek lawan.

Babak 2 permainan tak ada perubahan sedikitpun. Malah Vietnam yang menebar ancaman dengan memasukkan striker matang, Le Cong Vinh. Benar saja dia mencetak gol indah hasil permainan 1-2 yang sangat cantik. Timnas baru bisa bermain mencoba menguasai bola setelah Firman Utina masuk. Samsul Arif yang kemudian masuk juga memberikan asa karena agresifitasnya yang tidak dimiliki Boas atau Van Dijk. Akhirnya gol tercipta lewat kakinya, namun lagi-lagi karena blunder Vietnam dan kali ini kiper. Beruntung timnas Indonesia dapat menahan tuan rumah, namun tetap lah perlu evaluasi melihat statistik : 2 attempts 2 shots 2 goals. Bukan efektif, tapi tak mampu lebih.

Dipermalukan Filipina

Saya semangat sekali pulang dari kantor karena ingin menyaksikan timnas main lagi, meski hanya sempat 1 babak. Begitu sampai kost, skuad merah putih ternyata sudah tertinggal 1 gol berkat penalti Phil Younghusband. Usut punya usut Zulkifli jadi penyebab penalti karena backpass yang lemah, bola dicuri. Euh, julkipli lagi.. Melihat starter ada perubahan : Firman dan Samsul menjadi pilihan pertama. Saya rasa ini lebih dikarenakan Boas perlu rotasi. Tapi Samsul kan terkenal sebagai “super-sub”, masihkah akan bagus ketika dia menjadi starter?

Di babak 2 Boas masuk menggantikan Ridwan dan membuat Indonesia memiliki 3 pemain depan di lapangan. Wah, gegabah nih pikir saya. Dan terbukti, niat menyerang eh malah jebol lagi. Sangat terlihat lini tengah kurang koordinasi meski sudah ada Firman. Sudah tertinggal 2 gol, Cristian Gonzales masuk, menggantikan Zulham Zamrun ! WTF are you thinking Mr Riedl !! 4 penyerang sekaligus? Dia pikir ini zaman posisi 4-2-4 apa?! Saya makin ragu timnas bisa menyamakan kedudukan. Apa mungkin pelatih sekelas ini hanya berpikir “penyerang bagus akan mencetak gol” tanpa berpikir bagaimana proses menciptakan gol?

Petaka datang ketika Kurnia Meiga menangkap backpass Jupe sehingga Filipina mendapat indirect free kick di dalam kotak penalti. TAPI EH bukannya bikin pager ngehalangin lawan, ini kiper sama bek malah protes-protes dulu ke wasit. Gol lagi lah gawang yang telah ditinggalkan penjaganya. Gol yang memalukan. Petaka menjadi-jadi ketika pemain yang saya ragukan dari awal, Rizki Pora, kena kartu merah. 10 orang pemain timnas dimanfaatkan Filipina yang masih belum puas dengan 3 gol. 1 gol penutup mereka ciptakan, melengkapi balas dendam disingkirkan di semifinal 4 tahun lalu oleh negara dan pelatih yang sama. Kalau 12 tahun lalu kita bisa mempermalukan Filipina 13-1, sekarang gantian.

Kemenangan Hampa

Saya senang karena akhirnya Evan Dimas dimainkan, meski disaat peluang Indonesia sudah hampir tertutup. Satu pemain muda lain, Ramdhani Lestaluhu juga dipasang sebagai starting line up. Baru delapan menit pertandingan berlangsung, wonderkid langsung menjawab harapan jutaan suporter timnas. Keeping bola sekali, Evan menciptakan gol indah dari luar kotak penalti yang saya yakin tidak banyak bahkan pemain lain yang bisa melakukannya. Youngster lainnya bahkan menyumbangkan 2 gol, sebelum akhirnya ditarik keluar karena cedera.

image

Permainan Indonesia di pertandingan terkahir benar-benar berbeda. Terlepas dari skill pemain Laos yang kelasnya dibawah 2 lawan sebelumnya, pemain kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk menguasai bola dan mengontrol permainan, serta membangun serangan lewat umpan-umpan pendek yang sama sekali tak mampu diperagakan di hadapan Vietnam dan Filipina. Bahkan di pertandingan terakhir ini timnas bermain dengan 10 orang sejak menit 27 karena kartu merah kontroversial yang diterima Supardi. Namun karena percaya diri dan merasa kita tidak lebih rendah dari Laos, maka timnas tetap dapat menggempur pertahanan Laos hingga pertandingan usai. Saya rasa disini mental bermain. Pemain Indonesia sudah tidak lagi merasa mereka sebagai raksasa Asia Tenggara. Ciut melawan tuan rumah, memainkan umpan panjang yang tidak jelas arahnya. Takut berhadapan dengan belasan pemain naturalisasi Filipina yang membawa peringkat FIFA mereka jauh diatas Indonesia. Namun percaya diri menghadapi pemain Laos yang masih “anak bawang” karena mayoritas dibawah 24 tahun. Empat tahun dari sekarang mungkin Laos bukan lagi lawan yang mudah, dan kita akan ketakutan menghadapi Laos jika tidak ada peningkatan.

Apa mau dikata, Vietnam mencukur Filipina 3-1 sehingga kemenangan timnas ini menjadi tidak berarti. Indonesia menang, Indonesia pulang.

Regenerasi Mandek

Jika diperhatikan dari awal, anda tentu tahu bahwa saya menyudutkan pelatih timnas, Alfred Riedl. Pemilihan pemainnya terlalu klasik (baca : pemain tua) dan perancangan strateginya terlalu skeptis. Tengok saja berapa jumlah pergantian pemain di laga melawan Syria sebelum AFF, saya sampai ga ngerti penempatan posisinya gimana. Persiapan emang cuma +- sebulan sih, tapi ga gini juga kali! Mau tahu beberapa fakta tentang squad Indonesia di AFF 2014. Berikut saya berikan data yang saya himpun dari wikipedia :

image

Lihat row 1, itu adalah usia rata-rata squad negara di piala AFF 2014. (sumber : wikipedia, note : pemain Myanmar tidak lengkap). Silakan terkejut melihat usia rata-rata pemain timnas Indonesia. Dua puluh delapan tahun, usia yang sangat tua. Bayangkan jika kita harus memilih pemain berpengalaman kompetisi yang sama untuk AFF berikutnya, 2016. Saat itu usia rata-rata pemain sudah kepala tiga! Bandingkan dengan Vietnam, Thailand, dan Singapura. Mungkin itu sebabnya mereka sudah pernah jadi juara di Asia Tenggara (plus Malaysia). Bahkan Laos bak menurunkan timnas Sea Games mereka di kancah senior, dengan usia rata-rata 22 tahun. Mustahilnya, laos membawa seorang pemain berusia 16 tahun bernama Maitee. Masih SMA.

Fakta lainnya, pemain tertua adalah, yang sudah saya mention sebelumnya : Cristian Gonzales. Memang pemain ini masih tajam, tapi segitunya kah sampai mengorbankan pemain lokal yang masih muda? Lalu pemain kedua dan ketiga tertua adalah Juan Luis Guirado (Fil) dan Shukor Adan (Mal). Urutan selanjutnya kembali disini oleh pemain kita, M.Ridwan… dan yang mencengangkan, posisi Guirado dan Adan adalah bek, sedangkan Gonzales striker, serta Ridwan sayap yang perlu berlari sepanjang pertandingan.

Kemudian saya mengelompokkan usia ke dalam 4 golongan seperti diatas. Saya membuat kelompok usia 20-26 tahun karena saya rasa itu usia ideal untuk ikut kompetisi. 20-23 tahun untuk memberi kesempatan pemain muda, 24-26 adalah usia yang saya kira usia matang. Namun ternyata, hanya 7 orang saja pemain kita yang masuk dalam kelompok usia tersebut yaitu : Meiga (24), Ramdhani (23), Rizki (25), Wanggai (26), Zulham (26), Manahati (20), dan Fachrudin (25). Bandingkan dengan Vietnam yang membawa 13 pemain dengan kelompok usia yang sama. Lalu ada 6 pemain timnas kepala tiga, bandingkan dengan Thailand yang hanya membawa 1, dan Singapura yang sudah “mengistirahatkan” pemain veteran mereka. Masih ingat dengan sepak bola di sea games 2011? Kala itu timnas U-23 yang diisi oleh Titus Bonai cs. menjadi runner up. Seharusnya, mereka-lah yang kini berada dalam usia matang untuk membanggakan tanah air. Tapi kemana perginya Patrich Wanggai, Egi Melgiansyah, dkk ? Hanya Ramdhani dan Kurnia Meiga yang tersisa sedangkan Malaysia, Vietnam, Singapura, dan Thailand menikmati squad muda 3 tahun lalu untuk berlaga di AFF 2014.

Di Malaysia ada Mahali Jasuli, Bakhtiar Baddrol, dan kiper Khairul Fahmi. Lalu 2 pemain andalan Vietnam juga hasil sea games 2011 : Pham Thanh Luong dan Nguyen Van Quyet. Nguyen bahkan masih 23 tahun. Singapura lebih banyak lagi : ada Izwan Mahbud, Afiq Yunos, Quak Jun Yi, Shahdan Sulaiman, Faris Ramli, Shakir Hamzah, Haris Harun, Al-Qaasimy Rahman, Khairul Nizam, Zulfahmi Arifin, dan Safuwan Baharudin. Hebat. Sayangnya mereka juga sudah tersingkir di AFF 2014 karena gol injurytime Malaysia. Sementara Thailand punya penyerang andalan, Adisak Kraisorn, yang mencetak 2 gol kemenangan thailand atas singapura.

Kambing Hitam

Timnas kita benar-benar butuh regenerasi. Sekarang masih bisa kita remehkan Laos. Tapi 2-5 tahun lagi, saya yakin squad muda Laos akan matang dan tidak lagi dapat diremehkan. Mereka sangat berani memainkan youngster. Bahkan pemain andalan mereka baru berusia 22 tahun, dan saya dengar komentator menyebutnya “Messi like moves !”. Soukaphone Vongchiengkham, anak muda Laos yang akan bersinar. Perbandingan usia ini benar-benar menampar Indonesia. Pantas saja timnas kita kewalahan menghadapi pemain Vietnam yang tidak lelah berlari kesana-kemari dan memainkan penguasaan bola. Pantas juga pemain kita tak dapat menandingi power dan body pemain Filipina yang lebih bugar.

image

Satu fakta lagi deh, tahukan anda siapa pemain yang pernah berlaga di AFF tertua sebelumnya, dan sekarang masih tampil di AFF 2014? Jawabannya adalah penyerang andalan kita Boaz Solossa. Dia memang sudah menjadi bintang di AFF 2004 kendati usianya masih 18 tahun. Tapi coba dipikir siapa sih yang bisa mempertahankan konsistensi dan kematangan di kompetisi internasional ini sampai 10 tahun? Bisa, tapi jarang. Apalagi diantara 2 perhelatan tersebut, Boas absen! Haduh haduuh.

Lantas jika sudah gagal maning, gagal maning, siapa yang mau disalahkan? PSSI? Saya rasa PSSI sudah cukup ‘tobat’ loh dengan membenahi liga Indonesia. Masa mau dikambing-hitamkan terus? Kalau begitu salahkanlah Alfred Riedl yang tiba-tiba datang lagi ke Indonesia. Lah yang milih siapa? PSSI lagi dong yang disalahin. Lagipula Riedl tentu punya banyak alasan dengan kegagalan ini, seperti persiapan yang tidak matang alias mepet ISL. Sudah bingung sekarang kalau mau saling menyalahkan. Dari zaman demo Nurdin Halid, timnas sepakbola Indonesia masih belum dapat prestasi. Jadi adalah keliru jika menyalahkan PSSI tanpa apa tahu apa yang harus diperbaiki, apalagi hanya meng-kambinghitamkan La Nyala.

However, PSSI adalah induk organisasi sepakbola tertinggi di Indonesia. PSSI-lah yang mempunyai kebijakan untuk membuat liga dan bertanggung jawab atas tim nasional. Oleh karena itu, saya rasa PSSI tetap harus mengambil langkah strategis untuk mengakhiri paceklik gelar timnas Indonesia. Saya tidak menyalahkan, namun saya hanya berharap ini menjadi Evaluasi bagi PSSI. Langkah bagus telah diambil ketika membenahi dualisme liga, dan kini masalah adalah regenerasi tim nasional. PSSI harus mengambil kebijakan terkait dengan pengembangan anak muda berbakat, supaya dapat berkembang di liga, dengan adanya klub yang menaungi. Jadi ISL tidak boleh hanya menjadi ajang klub kaya mencari prestasi, tapi ISL haruslah menjadi liga yang kompetitif dan memicu perkembangan sepak bola tanah air, dan mendatangkan prestasi untuk tim nasional Indonesia.

Semangat tim nasional ! saya hanya dapat menulis dan mendukung. Semoga uneg-uneg ini terjawab dengan prestasi. Saya masih menunggu debut saya di GBK. Salam olahraga!

Ps : mohon maaf kalau formatting kurang bagus. Saya mengolah tulisan ini memakai handphone, di tengah jam kantor.

image

sumber gambar :
thanhnien.com.vn (soukaphone)
rmol.co (andik)
tempo.co (evan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s