Qerja

Sudah hari terakhir di bulan Oktober. Tinggal menghitung hari menuju suatu perubahan besar dalam hidup saya. Dari yang tadinya menuntut ilmu, mengikuti arus, meminta uang; sebentar lagi saya akan mengaplikasikan ilmu, menentukan pilihan, dan mencari uang. Tanggal 3 November nanti adalah hari pertama saya bekerja di sebuah perusahaan yang berlokasi di Jakarta. Oh ya berarti ada satu perubahan lagi yaitu dari yang tadinya 21 tahun lamanya, tinggal bersama orangtua di Padang-Bandung, akhirnya jadi anak rantau juga. So please welcome me to the club !

Senang rasanya. Sudah lelah saya bersantai-santai di rumah sejak wisuda, 3 bulan lamanya saya merasa otak saya ga kepake. Bener-bener tidak ada beban kuliah, deadline, organisasi, ujian, dan lain sebagainya rutinitas anak kampus. Tiap hari bingung mau mengerjakan apa. Bahkan tidak tau hari apa karena setiap hari berasa hari minggu. Akhirnya, saya akan kembali menemui rutinitas, yang saya pikir akan jauh beda dengan rutinitas sebelumnya. Bukannya tanpa alasan sih saya nganggur 3 bulan lamanya. Mulai dari keinginan untuk lanjut S2, sakit, ingin cari kerja di Bandung aja, sampai ide untuk startup pernah terlintas di benak saya. Kalau boleh cerita, saya ingin berbagi kegalauan saya selama masa tidur-tiduran di rumah tersebut + cerita sampai akhirnya memantapkan pilihan.

Pertama, lanjut S2. Ini sudah keinginan saya sejak tingkat 3, waktu lulus mau langsung melanjutkan studi. Alasan utamanya adalah supaya saya bisa menyelesaikan pendidikan secepat mungkin, lalu meniti karir sedini mungkin. Niat ini ditindaklanjuti dengan aplikasi KGSP saya untuk fall 2014. Malang nian ternyata Kim Jong Un Park Geun Hye belum sudi menampung saya tahun ini, pupus sudah niat saya (ya, waktu itu saya langsung nyerah). Tapi niat itu muncul lagi setelah wisuda. Adalah karena melihat banyak teman yang sudah siap melancong ke berbagai penjuru dunia, saya ubek-ubek lagi website berbagai universitas di Korsel. Semua dokumen telah ada karena sebelumnya apply KGSP, kecuali satu : TOEFL. Saya yakin ini salah satu alasan aplikasi saya sebelumnya tersaring oleh aplikasi orang lain. Bodohnya, sampai lulus, bahkan sampai postingan ini publish, saya masih belum punya skor english proficiency. Sebenernya sudah ikut intensif IELTS di satu lembaga bahasa inggris di deket kampus, tapi setelah dipikir-pikir, saya urung niat untuk S2 dalam waktu dekat, FIX. Ternyata masih banyak pertimbangan yang harus dipikirkan untuk melanjutkan studi ke negeri orang.

Kegalauan kedua, sakit. Lebay ini, saya nyesel, tapi mau gimana lagi. Jadi di akhir Agustus saya merasa ada yang tak beres karena perut saya sering mual, ingin muntah, batuk, dan daya tahan tubuh merosot. Beberapa gejala sudah kerasa pasca TA-sidang. Pergilah ke kimia farma, lalu dirujuk ke rumah sakit deket kampus. Setelah ke dokter spesialis penyakit dalam, saya ga nyangka harus cek labor, thorax, dan USG. Wehhh, dalam satu minggu ada 5 kali saya ke rumah sakit untuk cek ini-itu. Dokter mengatakan saya mungkin terkena radang kelenjar getah bening, tapi mungkin juga kena TBC karena gejalanya sama. WHAT? seketika saya stres sendiri. Memang harusnya optimis sih, karena sebetulnya gejala TBC yang parah (keringat, batuk darah) tidak saya rasakan. Tapi saya berpikir untuk antisipasi kondisi terburuk. Hasil googling, pengidap TBC harus minum obat tiap hari selama 6 bulan. Karena saya langsung down dan merasa lemah duluan, akhirnya saya putuskan untuk mencari kerja yang santai-santai saja dan tetap tinggal bersama keluarga. Manja? iya maafkan. Dua minggu pengobatan berlalu dan, jika penyebab sakitnya bukan kuman TBC, harusnya itu KGB berkurang. Alhamdulillah, hasil USG menunjukan pengurangan yang signifikan, yang kata dokter berarti hanya radang KGB biasa. Alhamdulillah. I felt so relieved.

Masa-masa hectic rumah sakit ini terjadi di bulan September. Saya ambil les intensif IELTS di bulan September. Deadline dokumen SNU, KAIST, dan KU adalah akhir September (beberapa univ Oktober). So, that time i felt very distracted. Saya sadar sih ada pelajaran yang bisa saya petik disini. Terutama, saya fix untuk melanjutkan S2 “nanti saja”. Dengan kondisi yang tidak 100% siap, bukanlah hal mudah untuk bertahan hidup di tempat yang serba baru : teman, lingkungan, bahasa, cuaca, budaya, juga makanan. Melanjutkan studi ke luar negeri bukanlah sekedar ingin menambah ilmu di tempat yang lebih baik, apalagi sekarang saya sadar bahwa saya belum betul-betul mempunyai keputusan ingin melanjutkan ke jurusan apa. Saya tidak ingin S2 saya tidak berdampak untuk karir, apalagi sia-sia hanya dapat pengalamannya saja jalaa-jalan ke negeri orang. Saya ingin S2 yang tepat, oleh karena itu saya pikir harus kerja dulu, dan menemukan passion bidang kerja sehingga nantinya  ilmu S2 saya akan sangat beneficial untuk meniti karir. Satu lagi distraksi, website titian karir ITB mulai ramai di akhir September. Jobfair pun mulai bertebar dimana-mana. (Kkeesseell, kenapa ga dari habis wisuda Juli sih). Saya mulai menyadari bahwa bidang pekerjaan itu banyaak banget yang bisa dieksplor sama anak elektro, apalagi perusahaan yang bisa dituju, bejibun. Akhirnya saya mantap untuk mengeksplorasi dunia kerja dan menambah skill.

Saya apply-lah banyak lamaran ke berbagai perusahaan. Perusahaan IT, telekomunikasi, kontraktor, oil & gas, dan tak lupa perusahaan konsultan kecipratan CV saya (entah dibaca atau langsung delete atau malah gak didonlot). Saya mengikuti kata orang tua dan teman, masukin aja lamaran ke semuanya, ntar milih. Dari berbagai perusahaan tersebut, beberapa mengundang saya untuk mengikuti seleksi. Dari beberapa tersebut juga hanya beberapa yang akhirnya saya ikuti proses seleksi. Oil & gas sudah tereliminasi karena malas kerja offshore dan jam kerja gak menentu. Konsultan urung karena website perusahaan gak meyakinkan. Kontraktor entah kenapa malas disuruh psikotes. Perusahaan telekomunikasi, yang saya idam-idamkan, multi national company, baru gabung sama microsoft (ketauan deh), ga respon apa-apa. Kayaknya mereka cuma iklan di karir itb supaya nge-php-in para jobseeker. Eventually there are just 3 companies whose selection process i attended. Oh ya, p.s. saya menghindari vacancy yang program MT dan atau requirement : all major.

Yang pertama, saya melamar sebagai mobile developer. Kerjaannya jurusan informatika banget, tapi karena saya punya pengalaman waktu KP dan TA, saya jadi coba aja deh. Ilmunya otodidak bukan dari kuliah. Interview teknis via skype. KAMPRET. maap. Ternyata ilmu otodidak tidak bermanfaat betul di interview ini, saya dikasih pertanyaan yang susah-susah dan konseptual didapet di kelas. Sudah lah tak terima pun tak apa. Saya lupakanlah itu perusahaan dingin.

Kedua adalah sebuah perusahaan punya alumni elektro ITB, bertempat di Bandung. Seperti kata saya di awal, sempat terlintas untuk startup setelah lulus. Nah di perusahaan alumni ini, setelah saya ikut seleksi dan diceritakan saat interview, saya pikir bisa merealisasikan ide saya untuk startup dan cita-cita enterpreneur. Kerjaannya pun bidang gue banget. Orang tua sudah mendukung. Saya tinggal menunggu job offer.

Dalam masa penantian, datanglah perusahaan yang ketiga, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang smart card, dengan cepat dan tanggapnya mengundang saya untuk mengikuti proses seleksi mereka. Perusahaan multi nasional, bidang kerjanya lebih ke IT-smart card, security, etc. Saya bergegas ke ibukota untuk mengikuti 4 tahap seleksi. Harusnya 4 tahap dibagi ke beberapa hari, namun karena saya dari luar kota akhirnya disatukan dalam sehari. Benar saja, perusahaan ini tanggap, atau memang sedang butuh? Jumat tes, Senin langsung dapet job offer. Akhirnya saya dapet juga pilihan, setelah sebelumnya hanya penantian. Masa pemilihan ini ternyata complicated seperti pemilihan umum. Akhirnya dengan menimbang berbagai faktor, ditambah beli buku Rene Suhardono tentang karir (saking galaunya), saya resmi menerima job offer dari PT. Oberthur Technologies Indonesia sebagai C Developer.

Faktor yang membuat saya ragu awalnya adalah tempat tinggal. Biaya kos di daerah yang dekat dengan kantor tersebut relatif mahal. Tapi saya berusaha mengesampingkan masalah tersebut. Walaupun, salary kalah sama perusahaan minyak dan dibawah expected salary saya, buat saya gaji mah asal bisa nabung, saya sudah puas. Mumpung belum ada tanggungan apa-apa, saya gamau batasi diri untuk belajar meskipun teman saya disana bisa dengan bangganya pamer gaji. Di perusahaan ini, saya berharap bisa mengasah lagi hard skill, as well my soft skill karena saya pikir akan benar-benar menjadi engineer dari yang paling dasarnya. Katanya sih workload cukup berat karena kerjanya project based. Tapi yha mumpung masih muda juga, dan udah terlatih kok di elektro ITB, InsyaAllah saya akan jalani. Cerita dari forum, salah seorang senior, dan manager (saat inteview) juga menguatkan hati saya untuk memilih kerja disini karena katanya lingkungan kerjanya bagus, rata-rata pegawai disini masih muda, have fresh ideas, and very helpful.

Semoga kesiapan saya makin bertambah dengan berkurangnya hitungan hari ini. Semoga perubahan yang akan saya jalani adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Semoga ilmu saya ini berguna.

Jika memang ini jalannya, mudahkanlah Ya Allah. Amin.

Advertisements

3 responses to “Qerja

  1. Wah pas banget ada post ini. Saya baru kemarin ngobrol sama teman yang S2-nya udah hampir beres dan jadi kepikiran soal pilihan hidup satu ini. Habis baca ini jadi bisa punya dua pandangan dari arah berbeda (thanks!). Sayangnya saya TA aja gatau mau bidang apa, apalagi passion kerja di mana haha.
    anw selamat menempuh hidup baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s