Detik-detik Pak Gubernur Angkat Kaki Dari ITB

Kamis, 17 April kemarin kampus rame. Jelas rame karena ada ‘selebriti’ datang ke kampus. Bagaimana tidak, popularitas Jokowi, sang pembicara pada kuliah umum bisa membuat Aula Timur penuh hingga kursi yang jumlahnya ratusan tak dapat lagi menampung peserta ‘studium generale’ yang membludak. Tapi ramenya cuma sebentar, karena tak lama setelah Pak Jokowi masuk ke gedung Aula Timur, beliau hanya menyampaikan sepatah dua patah kata, lalu angkat kaki. Ini video yang saya rekam sendiri memakai HP salah seorang teman

Kenapa Pak Gubernur bisa angkat kaki? padahal kan cuma mau mengisi kuliah umum bicarain Jakarta ya niatnya baik loh mau berbagi pengalaman sama adek-adek di ITB. Oh ternyata diluar ada demo mahasiswa ITB yang menolak POLITISASI KAMPUS bukan menolak kedatangan Jokowi. Ah sayang sekali. Ngapain sih pake demo-demo segala, kan gajadi tuh, Padahal niat saya cuma mau liat Pak Jokowi ngomong, sharing-sharing pengalamannya. Bodoh itu yang demo, membuat buruk citra ITB, meskipun itu hanya karena dipelintir media dengan beritanya, later.

Ya setidaknya itu yang saya pikirkan sampai tadi pagi. Semaleman saya mantengin timeline facebook dan twitter, cari info sana-sini, sekarang saya pikir ada benernya juga itu demo, ga sepenuhnya salah. Biar saya runut cerita versi saya.

Beberapa hari sebelum hari H, saya mendapat info kalau Pak Jokowi mau mengisi kuliah umum studium generale. Tapi dari info yang saya dapat saat itu tidak ada tema tercantum (mungkin karena saya belum mencari juga). Saya sih pengen dateng-dateng aja. Sebelumnya pernah mau ikut studium generale dengan pembicara yang sama, tapi beliau batal datang. Hingga akhirnya pada 12.30 hari Kamis, setengah jam sebelum acara dilaksanakan, saya sudah duduk manis di baris ke 4 atau 5 dari depan. Saya kembali menanyakan apa tema kuliah umum kali ini, tapi teman-teman di sebelah saya baik peserta kuliah SG atau yang seperti saya pada ga tau. Saat saya liat spanduk di depan pun tidak ada temanya. Jam 1, Pak Gubernur tak kunjung datang lalu diberitahukanlah bahwa Jokowi sedang di rektorat untuk menandatangani sebuah MoU tentang kerja sama ITB-DKI. Oke, ternyata agendanya ke Bandung itu toh, mungkin yang dibahas pun masalah itu. Oke laah, ga ada bahas-bahas pemilu ya Pak. Beberapa menit kemudian muncul selebaran entah darimana yang isinya

Menolak Politisasi Kampus ITB

 

Bersamaan dengan itu, suara dari luar mulai terdengar ramai. Saya mendengar seperti ada yang orasi. Lalu Jokowi pun datang, lewat pintu timur Altim alias pintu belakang bersama Pak Rektor. Pak Rektor bilang kalau Jokowi hanya akan menyampaikan sepatah dua patah kata. Lebih jelasnya mungkin bisa liat nih video

Bismillah
Assalamualaikum
Saya kesini sebetulnya adalah untuk menandatangani kerja sama antara ITB dan pemprov dki jakarta
saya kesini diundang kemudian juga diundang untuk memberikan kuliah umum tetapi karena ada yang pro ada yang kontra, tadi mau masuk juga sulit tapi ternyata saya pun bisa masuk.

Saya kira negara kita negara demokrasi. Yang mau seneng saya silakan, yang tidak seneng juga silakan. Yang mau suka silakan yang tidak suka juga silakan. Ini demokrasi tapi sekali lagi saya kesini adalah diundang. Tapi saya tidak ingin membuat polemik disini, nanti rame yang di dalem dan diluar meskipun sebetulnya juga tidak masalah juga.

Tapi lebih baik, tadi sudah saya timbang-timbang Pak Rektor, meski yang demo diluar banyak, yang di dalem juga banyak. Saya hanya ingin bahwa saya diundang dan saya harus datang dan saya juga ingin menunjukan bahwa saya berani datang ke itb. Mohon maaf siang hari ini saya tidak bisa memberikan kuliah umum. Yang saya sampaikan juga sebetulnya hanya masalah jakarta bukan masalah yang lain-lain. Oleh karena itu saya sampaikan maaf.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Wassalamualaikum

Begitulah yang diucapkan Pak Jokowi.. sementara diluar ada demo. Tumben anak ITB demo. Jadi mengapa Jokowi batal memberikan kuliah umum? Ya jelas karena ada yang pro dan kontra dan berpotensi berdampak negatif sih sepertinya. Saya sendiri awalnya menyayangkan batalnya SG…. Malam harinya saya cari-cari info dan manggut-manggut liat timeline socmed saya tentang anak ITB yang bahas ini. Terlihatlah mana yang ngerti politik mana yang ngga, mana yang buat politik mana yang ngga, mana yang sok tahu mana yang ngga. Sangat menarik melihat pola pikir orang seperti ini.

Apa Kata Mereka?

Sebelum mengomentari apa kata orang-orang terkait masalah ini, saya ingin menekankan terlebih dahulu tentang diri saya. Yaitu bahwa saya bukanlah orang yang mengerti politik, tapi saya tidak buta politik. See the difference? saya sendiri mendefinisikan tidak buta politik dan mengkategorikan saya kedalamnya karena saya masih ngikutin berita-berita tentang politik. Saya masih baca koran kok (belakangan jadi jarang sejak sibuk TA). Tapi saya tidak ngerti politik, dalam artian saya belum segitunya memiliki effort untuk mencari kebenaran dari sebuah berita terkait politik. Bukannya tidak mencari kebenaran, tapi masih bingung untuk menentukan mana yang benar, dan kepada yang mana saya memihak. Alasan utama karena jam terbang, saya masih 20 tahun, ngerti apa sih tentang politik. Haha

Malam menjelang, timeline facebook dan twitter saya pun mulai ramai oleh anak2 ITB yang ngeshare berita ini. Ada  yang mendukung dan salut atas tindakan berani teman-teman pendemo, namun tak sedikit pula yang menyayangkan aksi ini. Tapi kalau saya boleh mengelompokkan kedua pihak ini dan menganalisis komentarnya, lalu melihat perbedaannya, setidaknya ada beberapa karakteristik yang dimiliki pihak yang mencemooh (selanjutnya saya sebut kontra) dan juga yang mendukung sikap oknum KM ITB (selanjutnya saya sebut pro).

Yang mendukung aksi, lebih berisi

  1. Pihak pro lebih banyak didominasi oleh alumni (setidaknya alumni di timeline fb saya) dan mahasiswa yang aktif terpusat.
  2. Kebanyakan pihak pro ini nge-share dan mengomentari disertai data dan analisis. Bahkan alumni yang sudah tidak lagi berdomisili di Bandung. Mereka mencari informasi yang juga akhirnya menjadi referensi saya untuk bersikap. Sekali lagi, mereka banyak yang nge-share tentang klarifikasi fakta, bukan berita berjudul negatif.
  3. Pihak pro lebih ngikutin politik. Saya lihat bahwa orang-orang yang ngomentarin masalah sekarang,tidak hanya sekali ini membahas sesuatu bernuansa politik, melainkan sering ngeshare berita-berita dan pemikiran bagus. Setidaknya itu dari timeline facebook saya.
  4. Dari komentar-komentar mereka, saya lihat orang-orang pro lebih berpikir jauh ke depan. Mereka tidak cuma melihat masalah ini dari “batalnya kuliah umum”, tapi melihat apa saja yang mungkin terjadi di kuliah umum dan apa dampak yang akan timbul setelah kuliah umum.

Yang menyayangkan aksi? hmmmmm

  1. Pihak kontra lebih didominasi kaum muda (ceilee), tapi kaum muda yang tergolong ‘muka baru’. Muka baru yang tiba-tiba saja berkomentar, atau lebi tepatnya disebut ikut-ikutan.
  2. Pihak kontra ini ngeshare nya berita-berita yang negatif, tanpa mencari berita yang isinya data atau klarifikasi fakta yang sebenarnya. Ketika dikomentari orang, ‘tau yang sebenarnya gak?’ , dia menjawab tau, berkilah kalau mengikuti perkembangan kampus (tapi buktinya ngga ada)
  3. Pihak kontra melibatkan emosional, dan mudah men-judge. Tidak sedikit komentar yang saya lihat melibatkan emosional terlalu dalam (apa karena perempuan ya?) padahal ini politik. Kalau terlalu banyak melibatkan emosi, bisa-bisa bebas tuh Angelina Sondakh karena gak kuat liat dia nangis setiap sidang. Hahahaha. Lalu ada beberapa komentar yang langsung saja menghakimi bahwa aksi ini adalah salah dan mahasiswa yang terlibat adalah bodoh. Tak terkecuali Bapak Dosen yang saya kagumi, menjudge juga. wah wah
  4. Yang menyayangkan aksi, banyak yang takut kalo nama ITB tercoreng. Lebay. Menurut saya yang inilah yang lebay, bukan yang menolak politisasi kampus. Gak segitu-gitunya amat tuh aksi ini mencoreng ITB. Beritanya juga gak headline-headline amat. Malah orang-orang seperti ini yang membesar-besarkan bahwa nama ITB telah tercoreng. Padahal nggak.
  5. Orang-orang yang menyayangkan ini kecewa karena kuliah SG yang jelas niatnya baik, dibatalkan karena adanya demo. Pihak kontra bilang bahwa kuliah ini jelas tidak membahas perihal pemilu atau pencapresan Jokowi sehingga aman-aman saja tuh. Kalau nantinya ada yang nyerempet-nyerempet kampanye, barulah oknum boleh bertindak. Gitu kata mereka.. Saya awalnya setuju, tapi sekarang saya pikir lebih dalam bahwa potensi kuliah SG mengundang Jokowi akan menyerempet ranah politik sangat besar. Mungkin bukan Pak capres yang memulai, tapi tidak ada yang bisa jamin pers yang hadir disana bisa menahan diri dari menanyakan perihal capres. BUKTINYA, dari video yang saya rekam sendiri saja terdengar pada saat Jokowi mau meningglakan gedung aula timur, ada yang menanyakan apakah ini ada hubungan dengan safari politik? kalau obrolan seperti ini mencuat, siapa yang akan tanggung jawab ya.

Kalau kata saya sih…

Jujur kemarin saya galau ingin memihak yang mana. Tapi setelah melihat karakteristik dari kedua belah pihak ini, saya mantap mendukung adanya aksi penolakan politisasi kampus. Bukan penolakan Jokowi. Adanya citra bahwa KM ITB telah menolak kedatangan Gubernur, saya akui merupakan kesalah dari oknum-oknum pendemo sehingga muncul persepsi seperti ini. Walau bagaimanapun tentu ada cara yang lebih baik dari demo, atau menghalangi mobil masuk dalam kampus, atau dorong-dorongan sama satpam. Tapi tetap harus ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati, dan terlambat lebih baik daripada tidak sama sekali.

Terakhir, saya ingin menyampaikan beberapa, supaya anak ITB tidak boleh buta politik. Masih gampang loh ditemui anak ITB yang tidak tau siapa saja capres-capres yang diusung parpol. Kalau kata mantan kahim saya mengutip suatu buku sih, “kamu boleh tidak peduli politik, tapi kamu tidak bisa menghindar dari politik”. Lalu sekarang ini scopenya sudah pilpres.. bukan lagi pemilihan presiden KM. Beda loh.. kalau presiden KM sih cuma setahun. Dan kita kuliah pun dibatasi 6 tahun. Saya bisa ga peduli sama pemira KM ITB karena ga akan ada efek juga untuk kelulusan saya. Tapi kalo punya presiden RI yang tidak sepantasnya, bahaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s