The Tower, Korean Style Disaster Movie

Industri perfilman Korea mungkin belum banyak diwarnai dengan tema disaster movie. Budget yang mahal sepertinya menjadi alasan utama rumah produksi film korea lebih memilih membuat extremely depressing atau tearjerking movie. Dari yang sedikit disaster movie, Haeundae (해은 대) dan the tower (타워) adalah diantaranya. Tidal wave, nama rilis Haeundae di Amerika, lebih dulu muncul mengangkat bencana Mega Tsunami. Lima tahun setelah bencana tsunami Asia Tenggara, tidal wave sebenarnya mempunyai kisah dan alur cerita yang bagus serta artis beken korea seperti Ha Ji-won dan Sol Kyung-gu. Namun, teknologi perfilman Korea saat itu nampaknya masih sangat tertinggal dibanding Hollywood, dan belum dapat memuaskan penonton karena efeknya yang kurang baik. Tiga tahun setelahnya, Sol Kyung Gu kembali menjadi lead role pada disaster movie yang saya sebutkan lainnya, The Tower.

Plot

The Tower disutradai oleh Kim Ji-hoon dan rilis di Korea pada Natal 2012, setelah sang sutradara menghabiskan 2 tahun bergelut dengan CGI untuk dapat membuat film yang memuaskan penonton dengan special effectnya. Sesuai judulnya, film ini berlatarkan sebuah gedung pencakar langit setinggi 108 lantai di Seoul. The Tower bercerita tentang sebuah pesta pada malam natal di gedung tower sky yang dihadiri oleh orang kaya dan para pejabat. Malapetaka bermula saat helikopter yang sedang menaburkan salju buatan terjatuh dan menabrak gedung sehingga menimbulkan kebakaran hebat pada lantai dimana pesta berlangsung. Lee Dae-ho (Kim Sang-kyung), seorang single parent, adalah maintenance manager di tower sky yang merasa bertanggung jawab atas kejadian ini. Selain menyelamatkan koleganya, dalam dalam cerita ini dikisahkan ia berusaha menyelamatkan anaknya Ha-na dan pujaan hatinya Seo Yoon-hee (Son Ye-jin) dari kebakaran. Disamping kisah calon keluarga yang menyelamatkan diri, ada juga kisah tentang Kang Young-ki (Seol Kyong-gu), seorang komandan pemadam kebakaran bersama timya yang berusaha meredakan api dan mengevakuasi korban. Dua orang lead actor mempertaruhkan nyawa untuk memperjuangkan dua hal pula, keluarga dan kemanusiaan.

Review

Jika anda menginginkan film dengan special effect yang bagus, the tower adalah jawabannya. Skala tsunami yang terlalu besar pada Haeundae, tidak dapat diimbangi dengan grafik yang bagus sehingga hasilnya tidak terlalu memuaskan. Namun the tower berbeda. Perjuangan para firefighter melawan api terasa begitu nyata. Efek-efek hembusan api dan gelombang air disajikan dengan suara yang bagus pula. Tak heran sang sutradara, setelah dianggap tidak berhasil dengan film sector 7, menuai pujian dari film ini. Penjualan tiket the tower di teater mencapai 431.759 pada hari pembukaan (kedua tertinggi di Korea setelah the thieves) dan mencapai 5 juta pada 22 Januari, menghantarkan the tower menjadi film korea pertama yang mencapainya.

Keberagaman karakter dan konflik menjadi ciri khas dalam disaster movie. Tak terkecuali the tower, satu jam pertama diceritakan tentang sifat-sifat dari berbagai karakter. Satu jam pertama ini the tower mengangkat masalah-masalah setiap karakter. Tak kurang dari 5 konflik sukses dibawakan dengan simple sehingga penonton mudah mengerti. Namun salah satu kekurangan yang saya rasakan dalam cerita ini adalah dari segi alur. Alur maju yang monoton membuat jalan cerita mudah untuk ditebak. Beberapa masalah yang diangkat pada awal cerita terlalu clear sehingga kita bisa menebak-nebak, siapa yang akhirnya hidup dan siapa yang mati. Tapi pada akhirnya, peran yang baik dari cast terlibat membuat penonton cukup menikmati film berdurasi 121 menit. Sisi thrill mungkin tidak terlalu ditonjolkan dalam the tower. Daripada menimbulkan sensasi dari kengerian dan ketegangan, penonton lebih diajak untuk menikmati efek luar biasa dari alur yang sederhana, bahkan bumbu komedi serta melodrama khas Korea membuat film ini mantap. Sol Kyung-gu, artis senior sarat pengalaman, dan si cantik Son Ye-jin cukup membawa penonton larut dalam film.

Lalu, pesan moral dari film ini bisa dilihat pada firefighter captain besama timnya. Kembali kita diingatkan pada satu pekerjaan yang mungkin di mata banyak orang hanyalah pekerjaan untuk mendapat gaji menghidupi anak istri, namun dibalik itu jiwa kemanusiaan tergambar. Pemadam kebakaran disini menyelamatkan tidak pandang pejabat atau orang miskin.

Terakhir, saya kutip review dari sini sebagai kesimpulan. If you are a fan of disaster films, there is probably enough disaster in The Tower to be enjoyable. In fact, the action moments, when not bogged down by needless drama, are relatively engaging enough that I think most audiences will actually be able to make it through the film on them alone. But The Tower’s insistence on slow, unnecessary, and unearned dramatic moments feels like it’s trying so very hard to wring at least a tear out of your eye. And for me, finishing the film became as much of a chore as wringing every last drop of water from my clothes after a laundry gone wrong. (Setuju, tidak cukup membuat setetes air mata pun jatuh) Approach with without caution. 6/10 8/10.

The Tower (Hangul : 타워) see in imdb here

Revised Romanization    Tawo

Directed by        Kim Ji-hoon

Starring        Sol Kyung-gu, Kim Sang-kyung, Son Ye-jin

Distributed by        CJ Entertainment

Release dates        December 25, 2012

Budget            ₩10 billion

Advertisements

One response to “The Tower, Korean Style Disaster Movie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s