Sea Games 2013, Olahraga, Dan Nasionalisme

Olahraga adalah kisah tentang manusia yang menjalani folosofi kehidupan, yang diistilahkan Pierre de Coubertin dengan “olimpisme” , yaitu memuliakan dan memadukan secara seimbang seluruh kekuatan jasmani, pikiran , dan tekad.

Begitulah kutipan yang saya ambil dari headline KOMPAS pagi ini. Jelas, masih dalam rangka (kegagalan) Indonesia di Sea Games ke 27 Myanmar 2013. Saya katakan gagal karena perolehan emas kontingen kita jauh dari yang telah ditargetkan, 120 emas. Tapi bukan kegagalan yang mau saya bahas, bukan juga cacian karena emas yang didapat Indonesia hanya sedikit lebihnya daripada sepertiga emas yang berhasil ditorehkan di Jakarta 2 tahun silam. Di tulisan ini saya malah mau memuji atlet dan seluruh official yang berjuang di Myanmar. Sudah banyak diluar sana fans yang hanya mendukung tim kesayangannya saat menang. Saya tidak mau.

Analisis Statistik

Mari kita mulai dengan  sedikit ulasan sea games yang baru saja resmi ditutup dengan seremoni di Naypyidaw hari minggu kemarin. Pada akhirnya, Kontingen Indonesia hanya bercokol di urutan ke-4 dibawah Vietnam, tuan rumah Myanmar, dan tentunya juara umum yang kini sudah menjadi raksasa olahraga Asia Tenggara, Thailand.

Sea Games 2013Perolehan emas Indonesia jauh di bawah Thailand dilihat dari presentasenya. Dua tahun lalu saat menjadi tuan rumah, Indonesia menjadi pemuncak klasemen dengan 182 emas, atau 32.9 % total emas yang diperlombakan. Ya, memang kalo dilihat presentasenya Indonesia 2 tahun lalu lebih tinggi daripada Thailand sekarang. Tapi yang membuat saya agak tercengang adalah jumlah atlet yang mereka kirimkan ke Myanmar lebih sedikit daripada ke Indonesia 2 tahun silam. Di Jakarta-Palembang, 882 atlet Thailand berhasil menyumbang 109 emas. Di Naypyidaw, 746 atlet mereka malah menjadi juara dengan perolehan 107 emas.

Sea Games 2011Bandingkan dengan jumlah emas yang diperoleh Indonesia 2 tahun lalu dengan 1059 atlet, dan kini 665 atlet. Hebatnya lagi Thailand belum jadi tuan rumah. Itulah sebabnya Pierre de Coubertin, founder olimpiade, mengatakan bahwa olahraga memadukan jasmani, pikiran, dan tekad. Walaupun jauh dari kandang, atlet Thailand lebih konsisten. Saya harus bilang, mentalnya jauh lebih kuat daripada atlet kita (fisik juga sih). Banyak perak Indonesia yang tercipta berkat determinasi atlet Thailand. Terakhir, Voli putra dan Sepak bola putra Indonesia dikalahkan Thailand di final. Dengan ini, Thailand sudah 3 kali menjadi penguasa olahraga Asia Tenggara dalam 4 ajang terakhir. Yang menarik lagi di sea games sekarang perolehan emas Myanmar melonjak 6 kali lipat. Faktor tuan rumah jelas menjadi pendongkrak. Namun selain itu kepanitiaan penyelenggara sea games sekarang benar-benar tidak menguntungkan Indonesia. Cabang-cabang pendulang emas Indonesia 2 tahun lalu, tidak dihelat. Misalnya paralayang (11 emas), panjat dinding (9), renang sirip (7), dan sepatu roda (12). Bahkan tenis (7 emas) juga tidak dpertandingkan sekarang. Cabang pilihan tuan rumah kali ini adalah catur tradisional dan chinlone (olahraga apaan tuh). Parahnya lagi, dari berita yang saya ikuti, Myanmar banyak melakukan kecurangan. Salah satunya berbuntut tim Judo Indonesia menolak menerima medali, termasuk perak dari Judoka Horas Manurung. Itu sebabnya Myanmar tidak saya anggap megalahkan Indonesia di sea games sekarang. Judo hanya salah satu cabang dimana atlet kita tidak mengalungi emas satu pun. Cabang lainnya adalah taekwondo yang dicap gagal total mempertahankan 6 emas. Cabang yang menyumbang emas paling banyak bagi tanah air di Myanmar adalah kempo dengan 7 emas. Disini kita bisa bangga dengan para atlet dan ofisial kempo yang telah berhasil memetik buah hasil latihan. Indonesia merupakan negara paling senior dalam bidang kempo di Asia Tenggara.

Sepak Bola

Ada yang kurang rasanya jika bicara olahraga tanpa sepak bola. Termasuk di sea games, euforia keberhasilan Indonesia menjadi juara umum sempat sirna sesaat setelah Bakhtiar Badrol berhasil menjebloskan tendangan penalti penentu pada partai puncak sepak bola. Malaysia memaksa sang juara umum mengalah di sepak bola karena adu penalti. Di sea games sekarang Indonesia berhasil kembali mencapai partai puncak meski harus kembali puas dengan perak, menyerahkan emas pada Thailand. Thailand memang luar biasa. Di tengah krisis politik yang menimpa negeri gajah, menuntut PM Yinluck Sinawatra mundur, atlet tetap mempunyai tekad dan mental jawara.

Lesu amat bro

Mari kita bahas perjalanan skuad garuda muda di Naypyidaw. Indonesia, tergabung di grup A bersama tuan rumah Myanmar, Thailand, Timor Leste, dan Kamboja. Harus saya bilang, Indonesia lolos sebagai runner up dengan tidak meyakinkan. Poin 7 dengan produktivitas gol 3 berbanding 4, kalah dibanding Myanmar. Namun sistem head to head yang diterapkan panitia membuat Indonesia berkesempatan membalas dendam atas Malaysia 2 tahun silam. Pertandingan semifinal melawan Malaysia cukup membuat tegang. Gol yang dicetak Bayu Gatra di babak pertama membuat jantung berdetak kencang sepanjang pertandingan, takut kebobolan. Dan benar saja, di 10 menit terakhir malay menyamakan kedudukan. Pertandingan berlanjut ke extra time dan harus ditentukan akhirnya lewat adu tendangan 12 pas. Kurnia Meiga, kiper timnas muda sekaligus kiper utama juga di timnas senior, mentalnya bicara. Berpengalaman dalam situasi seperti ini, yakni tatkalak final 2 tahun lalu dan semifinal piala solidaritas muslim beberapa bulan lalu, kiper ganteng menjadi penyelamat Indonesia U-23.

Di final pun Indonesia tampil jauh lebih apik daripada lawan. Beruntung Thailand bisa menjebloskan bola ke gawang Kurnia Meiga lebih awal. Sepanjang 90 menit menggempur dan menguasai pertandingan, hasil berkata lain. Kalau disini saya yakin, bukan tekad para atlet kita yang kalah . Usaha mereka berlari sekian puluh kilometer sepanjang pertandingan menunjukan tekad mereka untuk membuat bangga negara, membawa kabar baik ke tanah air.

Di sea games sekarang, padahal timnas membawa 5 pemain yang sudah berpengalaman sejak 2 tahun lalu yaitu Kurnia Meiga, Ramdhani Lestaluhu, Andik Vermansyah, Diego Muhammad, dan kapten Egi Melgiansyah. Salah satu faktor kekalahan saya pikir karena Egi dan Andik tidak tampil pada final akibat cedera. Buruknya, menurut saya tim pelapis Indonesia sangat jauh dibanding tim utama. Nelson Alom, Andri Ibo, Yoanes Pahabol, performanya mengecewakan. Di final kemarin, saya pikir Fandi Eko adalah pemain terbaik timnas. Satu lagi yang saya khawatirkan, pemain yang tampil di sea games sekarang kebanyakan sudah berumur 21  keatas.  Pemain kelahiran tahun 1993 (sebaya bro) hanya Manahati Lestusen dan Syahrizal. Lain cerita kalau sea games Singapura 2015 jadi diselenggarakan bulan Juli.

Nasionalisme

Sekarang kita beranjak ke topik yang lebih berat, lumayan perlu berpikir untuk menulisnya. Nasionalisme. Sebelumnya, coba tonton dulu video ini

Bagaimana perasaan kalian saat timnas mendapat peluang untuk mencetak gol, dan bagaimana jika peluang tersebut berhasil dikonversi menjadi gol. Apa yang kalian rasakan saat komentator berteriak EVAN DIMAS, lalu gol tercipta seraya seisi stadion bergemuruh? Kalau saya, langsung merinding, bahkan kadang berkaca-kaca. Lantas dengan itu apakah berarti jiwa nasionalisme saya tinggi? lebih tinggi mana dengan jiwa nasionalisme suporter di stadion, atau bahkan dibandingkan dengan pemain di lapangan? Tentu lucu jika menyimpulkan nasionalisme seseorang dari momen atau sesuatu yang eventual. Tapi tidak ada salahnya jika kita simpulkan bahwa para pelaku tadi adalah orang yang cinta bangsa. Menurut kbbi,

na·si·o·na·lis·men1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: —makin menjiwai bangsa Indonesia;2 kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan

Mengacu arti poin pertama, saya yakin bahwa saya sudah punya nasionalisme. Tapi dari poin kedua : kesadaran, mempertahankan, mengabadikan integritas. Para pemain di lapangan adalah orang yang mempertahankan tanah air mereka, tidak mau bangsanya diinjak-injak negara lain. Agak naif jika sepakbola tiba-tiba mengimplikasi nasionalisme seseorang. Tapi perhatikan lagi quotes dari Pierre de Coubertin bahwa olahraga memadukan secara seimbang seluruh kekuatan jasmani, pikiran , dan tekad. Fisik baik didukung kecerdasan jelas berperan dalam kesuksesan atlet. Lantas apa tekad para pemain tersebut? jika hanya karena senang, hobi bermain bola, atau ingin dapat bonus, mereka tidak akan mencium lambang garuda setiap mencetak gol. Jika tidak cinta tanah air, Taufik Hidayat tidak akan menangis saat berdiri di podium olimpiade menyanyikan lagu Indonesia Raya. Motivasi akan mendorong kita meraih keberhasilan, tapi tekad kuat lah yang membuat kita bertahan saat motivasi itu hilang.

Tekad membela tanah air, dimulai dari hal yang kecil, dimulai dari hal yang dianggap sebelah mata. Bukan hanya dari belajar dan paham sejarah, tidak cukup dengan aksi menuntut kesejahteraan rakyat. Jadi, darimana kamu menilai nasionalisme? apakah kamu sudah memenuhinya?

Terakhir, harapan saya masih dari timnas sepakbola U-19, adalah mereka tidak terlena dengan kesuksesan kemarin. Saya harap mereka tetap solid, tetap bermain bola dengan semangat membela tanah air agar 2 tahun dan 4 tahun lagi emas sepakbola sea games menjadi milik kita. Dan bukan tidak mungkin Juara piala Asia U-20 tahun depan, serta piala Dunia U-21 tahun berikutnya jadi milik kita. Jika mereka bertekad, untuk bangsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s