Garuda muda, bikin bangga

Evan Dimas Darmono, bersama pemain timnas U19 lain bersyukur setelah dia mencetak gol pertama ke gawang Korsel, Minggu 12/10. Pertandingan berakhir 3-2 untuk kemenangan Garuda Muda

Mungkin ini adalah postingan pertama saya di wordpress tentang sepak bola. Sepak bola, olahraga yang paling saya suka dari jaman Dwight Yorke pake kostum nomer 19 di MU (Jersey pertama (: ) sampai sekarang jaman David Moyes udah menggantikan Sir Alex. Yak saya emang suka MU dari dulu tapi sekarang topik bahasannya bukan itu, karena sekarang saya sedang dalam euforia Timnas Indonesia. Bukan Bambang Pamungkas dkk juga yang membuat saya ampe nulis ini, melainkan Timnas U-19 yang baru saja mengalahkan Korea 3-2 dan berhasil meraih poin sempurna dalam kualifikasi Piala Asia U-19 Myanmar 2014 – lolos sebagai juara grup.

Lebay amat dit ampe nulis.

“Dengan gelar AFF U19 ini, Indonesia berhasil memutus paceklik gelar 22 tahun”

Ya memang harus lebay, selebay Bung Hadi Gunawan (komentator RCTI) yang sering bilang “ahaaay” saat mengomentari permainan timnas, selebay tweeps di dunia maya yang bilang permainan timnas udah kayak Barca. Mumpung masih euforia juga sehabis jadi Indonesia Juara AFF cup under 19, sekarang lolos ke AFC 2014.

Jadi kekaguman saya terhadap permainan timnas bermulai dari AFF cup waktu pertandingan melawan Vietnam. Sebelumnya saya cuma nyimak hasil Indonesia mencukur Brunei 5-0 serta Myanmar 2-1. Di pertandingan lawan Vietnam ini, saya melihat tunas garuda yang mulai tumbuh dari kapten tim yaitu Evan Dimas Darmono. Evan Dimas mencetak gol di menit pertama dari luar kotak penalti, tendangan keras yang membentur tiang atas lalu mengenai garis gawang namun dianggap gol oleh wasit. Sayangnya, di pertandingan ini Vietnam saya akui main lebih bagus dan berhasil membalikkan keadaan. Meskpipun di babak 2 timnas bermain bagus, kita tetap kalah 2-1.

Dua hari kemudian adalah jadwal Indonesia bertemu Thailand. Karena ga nonton, saya cuma membaca headline di Koran besok paginya bahwa Indonesia berhasil ngalahin Thailand 3-1. Thailand sebelumnya mengalahkan Brunei 8-0. Yang saya kaget, Evan Dimas hattrick di pertandingan ini. Waw, kapan ya terakhir saya liat pemain timnas ada yang hattrick, di laga apapun….  Pertandingan selanjutnya, Indonesia cukup menahan imbang Malaysia untuk lolos dari grup mendampingi Vietnam. Timnas tertinggal lebih dulu, tapi di awal babak 2 berhasil menyamakan kedudukan lewat pemain hebat lainnya, Ilham Udin, nomor punggung 20. Tapi lagi-lagi Evan Dimas yang jadi aktor gol ini. Tendangannya dari sisi kanan gawang Malaysia membentur tiang jauh, sebelum akhirnya Ilham Udin tinggal menyontek bola masuk. Indonesia lolos dari grup dengan poin 10 sedangkan Malaysia 8.

Evan Dimas Darmono

Di semifinal, Indonesia berhadapan dengan Timor Leste. Saya kira Indonesia akan menang mudah seperti lawan Brunei, tapi ternyata bekas bagian Indonesia ini sudah lumayan berkembang sepak bolanya. DI pertandingan ini, lagi-lagi Ilham Udin mencetak gol, dengan kaki kirinya. Gol kedua dilesakkan dengan sangat indah oleh Hargianto. Video golnya bisa diliat di youtube, bukan hanya karena gol indahnya, tapi karena “JEBREEET”-nya. Indonesia lolos ke final, lagi-lagi lawan VIetnam. Tapi sayang banget saya gabisa nonton karena malam itu tepat malam pelantikan anggota himpunan. Saya cuma denger kabar kalo Indonesia menang lewat adu penalti. Meski cuma nonton di youtube, tetep merinding liatnya. Inget banget saya bagaimana timnas senior dikalahkan Thailand di piala tiger U19 lewat adu penalti. Kala itu Bejo Sugiantoro dan Firmansyah gagal mengeksekusi penalti. Juga teringat 2 tahun lalu, saat timnas U23 dikalahkan Malaysia di final Sea Games, juga lewat adu penalti. Kalau tidak salah, Ferdinan Sinaga gagal penalti. Dengan gelar AFF U19 ini, Indonesia berhasil memutus paceklik gelar 22 tahun setelah terakhir emas Sea Games 1991, waktu itu saya belum lahir. Berarti ini pertama kalinya juga saya liat timnas sepakbola Indonesia dapet gelar juara di ajang resmi. Review lengkap perjalanan timans di AFF U-19 bisa diliat disini.

AFC U19 Cup

Masih dalam euforia juara AFF -dan Islamic solidarity cup untuk U23- Timnas kembali mendapat tantangan dan jadi pusat perhatian. Tantangannya kembali untuk timnas U19 yang harus menjalani kualifikasi Piala Asia U19 Myanmar 2014. Perjuangan timnas di grup G cukup berat karena tergabung dalam grup yang diisi oleh Korea Selatan, pemegang gelar 12 kali sekaligus juara bertahan.

Isi skuad garuda muda tidak banyak perbedaan dengan saat juara AFF sebelumnya. Satu pemain baru yang saya inget adalah Yabes Roni, yang kayaknya adalah “the next okto”. Dua tempat lain di grup G diisi Laos dan Filipina. Saya gagal nonton laga perdana Indonesia melawan Laos. Di pertandingan ini, Muchlis Hadi Ning Syaifullah mencetak 2 gol. 1 gol oleh Ilham Udin, dan satu lagi lewat sang kapten Tsubasa alias Evan Dimas. Di pertandingan lain Korsel menghajar Filipina 4-0.

Pertandingan selanjutnya tidak saya lewatkan. Indonesia lawan Filipina, yang timnas seniornya bisa kita kalahkan 13-1 saat di piala tiger 2002. Di pertandingan ini, saya liat permainan timnas U23 jauh jauh jauh lebih bagus dibanding AFF. Entah apa yang diberikan oleh coach Indra Sjafri, timnas main dengan kerja sama yang baik. Di pertandingan ini, Indonesia memang ‘cuma’ menang 2-0. Tapi entah berapa goal attempts tercipta. Entah berapa shot on target yang berhasil digagalkan kiper Filipina. Di satu sisi memang efektivitas lini depan timnas masih perlu dibenahi, tapi di sisi lain timnas udah sangat ahli membangun serangan lalu menciptakan peluang.

Di pertandingan ini, saya rasa, Dinan Javier yang paling mencolok. Walaupun ga ngegolin atau memberikan assist, pemain bernomor punggung 9 ini menciptakan banyak sekali peluang. Seringkali dia membangun serangan lewat sayap dengan akselerasi dan agility yang sangat, WAW. Jadi kalau Ilham Udin di sayap kiri, di sayap kanan ada Dinan Javier, selain tentunya Maldini Pali yang dicadangkan di pertandingan melawan Filipina. Di pertandingan ini 2 bek sayap timnas juga main bagus banget, yaitu Muhammad Fatchu Rochman dan Mahdi Fahri Albaar.

Dinan Javier, berkali-kali merepotkan pertahanan Filipina

Yang lainnya lagi yang membuat saya kaget adalah, pemain timnas banyak yang jago tendangan bebas. Peluang free kick pertama dieksekusi kapten, tapi masih membentur tiang. Baru pada kesempatan berikutnya free kick jarak jauh berhasil dikonversi menjadi gol oleh Muhammad Hargianto. Menurut saya, free kick ini sangat berkelas. Ismed Sofyan kalah. liat aja ini . Gol kedua dicetak di babak kedua lewat pemain pengganti, Yabes Roni setelah lari kenceng menerima assist brilian dari Paolo Sitanggang. Di pertandingan ini, saya kagum sama hampir semua pemain timnas. Memang, skuad Filipina  muda belum sehebat senior, tapi permainan timnas disini patut diacungi jempol lah.

Pertandingan terakhir yaitu berakhir 2 jam sebelum tulisan ini dibuat, Indonesia lawan Korsel sang juara bertahan. Saya baru bisa nonton babak kedua dan kaget karena skor 1-1 dengan Indonesia unggul lebih dulu dan skor penyeimbang kedudukan lewat penalti. Siapa pencetak gol pertama? lagi-lagi Evan Dimas, assist Ilham Udin.

Di babak kedua, saya terkagum-kagum dengan permainan garuda muda. Gaya permainan, bahkan skill individu mereka sepertinya belum saya temukan di timnas (lebay-red). Contohnya Maldini, pemain bernomor punggung 15 yang diistirahatkan di pertandingan sebelumnya, tampil cemerlang di pertandingan ini. Muchlis, striker tunggal Indonesia juga walaupun finishingnya kurang memuaskan, tapi determinasi dan semangatnya sangat tinggi. Lari kemana-mana ngejar bola, ngerebut bola. waw

Dan yang tak kalah hebat, lagi-lagi Evan Dimas Darmono. Dia mencetak gol kedua yang merupakan hasi kerja sama sangat apik para pemain timnas. Berawal dari sayap kanan, Maldini melewati bek korea sebelum memberi umpan manis pada kapten. Evan menendang dengan kaki kiri, dan bola meluncur mulus ke jaring gawang melalui selangkangan kiper.

Kemudian Maldini diganti Yabes. 10 menit terakhir, Indonesia masih sesekali menekan lewat serangn balik. Suatu ketika, Ilham Udin di sayap kanan (tiba-tiba ada di kanan biasanya di kiri) melewati 2 orang pemain korea dengan sangat cantik. Mengirim umpan ke tengah, sudah berdiri disana Muchlis. Hebatnya, Muchlis tanpa melihat ke belakang mengetahui Evan Dimas sudah berada dalam posisi yang menguntungkan dan mengoper bola. Sang kapten, tanpa control terlebih dulu, melakukan tendangan first time dengan kaki kiri mengarah ke tiang jauh. Gol, sekaligus hattrick Evan Dimas. Luar biasa, padahal hari Minggu kemarin Evan dikabarkan terserang flu. Sekarang sudah onfire lagi. Meski 2 menit kemudian Korsel berhasil memperkecil ketinggalan, Indonesia tetap keluar sebagai pemenang dan menjadi juara grup G lolos ke AFC cup U19 Myanmar 2014.

Sujud Syukur para anak muda

Ulasan

semoga mereka akan selalu ingat tanah air, bermain sepakbola tanpa beban dan dengan semangat membela bangsa

Menurut saya, permainan timnas U19 di AFC melawan Laos (liat highlights), Filipina, dan Korsel sangat bagus. Beberapa analisis saya :

  1. Teamwork – Secara tim, mereka saya rasa mampu mengalahkan ego sendiri dan bekerja sama dengan baik. Bahkan waktu lawan Filipina permainan tiki-taka khas Barca beberapa kali dipertontonkan. Ini yang membuat banyak orang lebay, tapi memang hebat. Timnas bisa mengendalikan pertandingan dengan menguasai ball possession, sesuatu yang jarang terlihat di timnas senior. Timnas senior kalo main, oper dikit, trus di press lawan, trus panik, trus umpan lambung, trus gatau siapa yang dituju, kerebut deh.
  2. Semangat – Entah perasaan saya aja, atau memang karena semangat muda semangat 45. Saya melihat semangat pemain-pemain timnas U19 luar biasa. Staminanya juga cukup terjaga meski berlari kemana-mana di lapangan. Pemain ga malas menjemput bola, bahkan merebut bola dengan sangat gigih. Striker tunggal, Muchlis, biarpun kurang memuaskan sebagai striker tapi dia merebut bola lari kemana-mana. Gak males kayak Greg, Boas, apalagi Cristian Gonzales. Sepertinya posisi asli Muchlis ini sayap, karena dia lebih sering dikasih terobosan ke sayap dan berlari mengejarnya dibanding Fox In the Box nunggu bola kayak bintang iklan so nice.
  3. Skill individu – Ada dua kemungkinan sih, antara skill yang memang bagus, atau lawan yang jelek sehingga mudah dilewati. Tapi yang saya liat, pemain timnas U19 sangat berani untuk berduel. Dan sering memenangkan duel, entah itu dengan kecepatan, kelincahan, technique, atau body. Ilham Udin, Maldini, dan Dinan Javier bener-bener terlihat kecepatan dan kelincahannya. Apalagi Maldini, ‘gocekan’-nya sangat maut. Tambahan, shooting mereka dari luar kotak penalti bagus-bagus. Terarah, dan kadang keras + akurat.
  4. Trio Gelandang – Evan Dimas, Zulfiandi, Muhammad Hargianto. Trisula lini tengah ini sepertinya yang bikin Timnas U19 bisa main possession ball dan tiki-taka semacam Barca yang di lini tengahnya ada Xavi, Iniesta, dan Busquets – atau Fabregas. Evan Dimas gelandang yang bisa mengendalikan permainan di lini tengah. Jago menciptakan peluang dengan umpan-umpan terobosan ke sayap. Positioning nya di daerah lawan juga bagus, apalagi saat kemelut atau serangan dari sayap. Eksekusi bola mati bagus. Hargianto dan Zulfiandi juga  aktif membantu penyerangan dari second line. Shoot jarak jauh dan tendangan bebas Hargianto bagus, seperti saat lawan Timor Leste dan Filipina.
  5. Pelatih – Coach Indra ini satu kampung dengan saya yaitu Pesisir Selatan Sumbar, sesama urang awak. Di tengah kisruh sepakbola nasional, mungkin tidak ada yang tahu kalau ia sukses mempersembahkan trofi HKFA Hongkong dua tahun berturut-turut hingga 2013. Coach Indra adalah pelatih yang rela blusukan ke daerah terpencil untuk mencari talenta berbakat, salah satunya Yabes seperti pada artikel ini. Disamping itu, banyak juga disebutkan di media bahwa Indra Sjafri merupakan pelatih yang tidak hanya membekali kemampuan teknis, tapi juga aspek spiritualitas para pemainnya. Barangkali kebiasaan pemain timnas U19 yang sujud syukur sehabis mencetak gol juga karena character building yang dipersiapkan coach. Bisa jadi

Indra Sjafri (tengah)

Akhir kata, bukannya saya mau mengagung-agungkan timnas sepakbola Indonesia U19 yang baru saja membanggakan tanah air. Bukan juga saya mau menjelekkan timnas senior dengan membanding-bandingkan. Tapi selayaknya prestasi ini menjadi pelajaran yang berharga untuk seluruh elemen sepakbola di Indonesia. Seharusnya PSSI bisa berbenah dan mengevaluasi kekacauannya. Liga Indonesia kacau, mana bisa pemain berkembang di kompetisi lokal yang carut marut begini. Pemain ujung-ujungnya naturalisasi itu sungguh tidak baik dan tidak mendidik, cuma mengedepankan hasil. Lihatlah skuad garuda muda, masih rata-rata 18 tahun usianya. Belum mengenal dunia persepakbolaan yang kacau mereka. Semangat untuk tanah air, membela bangsa, masih jelas terlihat di mata para remaja yang baru lulus SMA ini. Semoga mereka ga main di Liga Indonesia kalau masih kacau begini. Semoga mereka tidak ditawarin jadi bintang iklan sosis, apalagi main sinetron. Semoga mereka tidak jadi sombong atau merasa terlalu diatas, karena terlalu dilebih-lebihkan oleh infotainment – infotainment urusin artis cerai aja sana-. Terakhir, semoga mereka akan selalu ingat tanah air, bermain sepakbola tanpa beban dan dengan semangat membela bangsa, pastinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s