Mimpi Kuliah Pun Tak Berani

Jadi kemarin saya melihat informasi ini di situs kemahasiswaan kampus sayaImage

Kira-kira kenapa lembaga kemahasiswaan bisa sampai ngasih pengumuman gitu ya, apakah karena jumlah pemohon angkatan ini yang terlalu banyak? atau kerena penerima angkatan sebelumnya banyak yang termasuk kategori “ternyata di kemudian hari terindikasi/terbukti mampu secara ekonomi” ?

Kebetulan tadi malem beasiswa PPA yang saya ajukan tahun lalu, sudah cair, untuk periode 6 bulan kebelakang. Terus tadi pagi seperti biasa baca koran dan pas sekali ada tulisan tentang Beasiswa Bidikmisi di Bengkulu. Begini tulisannya,

Mimpi Kuliah Pun Tak Berani

Kalau tidak dapat beasiswa, mungkin saya cuma jadi tukang sayur

Bagi sebagian besar mahasiswa penerima Beasiswa pendidikan bagi mahasiswa berprestasi di Universitas Bengkulu, melanjutkan kuliah di bangku perguruan tinggi negeri bagaikan punguk merindukan bulan. Bermimpi pun tak berani.  Biaya kuliah yang mahal jelas sulit bagi orangtua mereka yang sehari-hari mencari nafkah sebagai pembantu atau asisten rumah tangga, penjual batu-bata, penjahit, atau penjual gorengan.

Untuk mengutarakan keinginan melanjutkan kuliah ke perguruan tuinggi negeri kepada ibunya saja, Gita tidak berani. Keinginannya sebenarnya tak muluk-muluk, ingin kuliah karena ingin menjadi guru sekolah dasar. Tetapi, Gita merasa itu mustahil. Sejak ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, ibunya harus bekerja sebdiriran mencari afkah dengan menjual batu-bata.

“Untung saya dapat beasiswa bidikmisi. Sekarang saya bisa bantu ibu mencari uang dengan kasih les-les privat, “ kata Gita, yang kini kuliah di pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Bengkulu dan meraih nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,7.

Pengalaman Gita dan beberapa penerima Beasiswa Pendidikan bagi Mahasiswa Berprestasi (Bidikmisi) lainnya di Universitas Bengkulu diceritakan kepada Menteri Pendidikan dan kebudayaan Muhammad Nuh saat berkunjung ke kampus itu, akhir Juni lalu.

Beberapa mahasiswa sulit bercerita dan hanya terdiam karena menahan tangis. Hanya sepotong-potong mereka cerita pekerjaan orangtua mereka.

“Kalau tidak dapat beasiswa, mungkin saya cuma jadi tukang sayur. Bidikmisi ini harapan terakhir saya untuk bisa kuliah,“ kata salah seorang penerima bidikmisi dan kini kuliah di Fakultas Pertanian Uiniversitas Bengkulu.

Meringankan Orangtua

Berkuliah di PTN seperti Universitas Bengkulu bagi Redo Vanesa, mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, juga diyakininya menjadi bekal meringankan beban kedua orangtuanya dalam mencari nafkah. Lusiawati, ibu Redo, setiap hari berjualan gorengan di kantin sekolah untuk membantu suaminya tang terkadang mendapat pesanan menjahit kemeja sekolah.

“Biasanya jualan empek-empek atau gorengan saja. Kadang-kadang bisa dapat untung bersih 40.000 rupiah sehari. Tapi seringnya ya sedikit,” kata perempulan kelahiran Blora, Jawa Tengah itu.

Meski sedikit, hasil jual gorengan itu sangat berarti terutama ketika pesanan jahit kemeja Asril Tanjung (50), ayah Redo, tengah sepi. Jika sedang ramai pesanan, dalam dua hari Asril bisa menjahit hingga satu kodi (20 kemeja) dan untuk satu kemeja Asril mendapat uang jasa jahit Rp 5.000

“Kadang ada pesanan, kadang tidak. Tetapi ada saja bantuan dari teman yang memberi pesanan ke saya,” kata pria lulusan FISIP Universitas Bengkulu tahin 1984itu, saat Mendikbud Nuh dan Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah berkunjung ke rumah kayu dengan satu kamar yang ia sewa Rp 250.000 per bulan itu.

Asril dan Lusiati kaget saat Redo terpilih masuk ke Universitas Bengkulu dengan beasiswa Bidikmisi. Tidak ada sepeser pun uang yang harus mereka keluarkan sejak proses pendaftaran hingga kuliah. Bahkan Redojuga mendapat uang saku atau biaya hidup RP 600.000 per bulan. “Kami tidak pernah membayangkan Redo bisa kuliah seperti sekatang. Untuk makan saja masih susah. Bangga anak saya bisa kuliah,” kata Lusiati.

RP 600.000 per bulan

Beasiswa Bidikmisi diberikan kepada mahasiswa miskin dan berprestasi. Per bulan jumlahnya Rp 600.000.

Nuh mengatakan, saat ini sekitar 90.000 mahasiswa sudah menerima beasiswa Bidikisi. “Ditargetkan tahun depan, jumlah penerima beasiswa Bidikmisi bisa mencapai 150.000 mahasiswa,” kata Nuh.

Perguruan tinggi juga diwajibkan mengalokasikan kursinya minimal 20 persen untuk mahasiswa miskin. Sungguh upaya yang mulia.

Meski demikian, kenyataan di lapangan, masih sangat banyak siswa dan sekolah yang kesulitan mendaftar untuk mendapatkan beasiswa Bidikmisi. Ini antara lain disebabkan proses pengajuannya yang harus secara online. Padahal, tidak semua daerah memliki akses ke jaringan internet.

“Kami yang tinggal di daerah merasa diperlakukan tidak adil. Mestinya pendaftaran tidak seluruhnya secara online.” Kata Suster Margaretha, Kepala SMA Katolik Bhaktyarsa, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.

KOMPAS, 6 Juli 2013, hal 12

Wah, betapa berartinya ya beasiswa + biaya hidup untuk orang seperti mereka. Kalau disini, apakah penerima beasiswa Bidikmisi sesulit itu juga hidupnya?  apakah prestasinya seperti Gita juga? semoga iya……

semoga juga beasiswa peningkatan prestasi akademik yang saya terima adalah pantas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s