April Betawi Punye HME !

ImageHME ITB, Bandung – Lebih dari 100 mahasiswa Elektro ITB berpartisipasi dalam arak-arakan wisuda ITB, Sabtu (15/4/2012). Acara rutin tiap wisuda ini sudah menjadi salah satu budaya himpunan

Ramai, meriah, penuh kostum. Hal itulah yang pertama akan terlintas di benak jika berbicara tentang acara wisuda ITB dengan serangkaian acara arak-arakan wisudawan yang sudah menjadi tradisi tiap himpunan mahasiswa di Kampus Ganesha. Bagaimana dengan HME? Himpunan Mahasiswa Elektroteknik, dengan jumlah anggota dan wisudawan terbanyak tentu selalu ditunggu pada acara yang digelar 3 kali setahun. Serunya July Wars dan Mitologi Yunani pada 2 perhelatan sebelumnya menambah penasaran.

 

Kalau bicara wisudaan hanya arak-arakan, tentu saja salah. Syukuran wisuda dan talkshow siang adalah beberapa acara wisuda lainnya yang disajikan teman-teman himpunan. Ada yang berbeda dari rangkaian kegiatan wisuda HME ITB April ini. Mulai dari Wisnite, arak-arakan, dan acara siang. Ketua wisuda kali ini, Fadhel Gartam (19) dari EL’10, ditantang untuk menghadirkan suasana baru dengan persiapan yang bisa dibilang kurang. Sedangkan tema Betawi yang diusung untuk wisuda April baru tercetus beberapa minggu sebelum hari-H.

 

Kalau sebelumnya RM ArumManis di Jalan Cihampelas menjadi langganan tempat wisnite HME, kali ini Bumi Sangkuriang beruntung menjadi tempat acara syukuran wisuda calon orang-orang hebat dari Elektroteknik. Sesi award dan acara puncak malam itu terbilang sukses menghadirkan sesuatu yang baru dan pantas untuk dikenang. Terlihat juga beberapa dosen pembimbing menghadiri acara malam itu, 2 diantaranya adalah Bapak Nanang Hariyanto dan Bapak Ian Yosef. Pak Nanang sendiri memberi respon positif untuk wisnite ini. Beliau menuturkan bahwa acara wisuda HME selanjutnya seharusnya bisa berkolaborasi dengan STEI agar lebih sukses.

 

Pada arak-arakan keesokan harinya, dekorasi dan performance HME memukau. 2 ondel-ondel besar dan kembang kelapa membuat suasana betawi makin kental. Pada edisi-edisi sebelumnya, tiap peserta arak-arakan mempunyai properti masing-masing. Sekarang properti tidak banyak dan kostum dikenakan performer saja. Yang lain cukup berjahim dan sarung dikalungkan. Sayangnya, bajaj yang menghiasi Bumi Sangkuriang malam sebelumnya tak dapat dibawa arak-arakan karena terbentur perizinan pihak kampus. Hujan yang mengguyur di siang hari tidak menurunkan semangat anak muda calon wisudawan ini untuk mengarak para pendahulu mereka. Tak lupa acara khas yang hanya ada di HME, setrum-setruman di Tugu Soekarno menjadi pusat perhatian masa kampus yang tersisa sore menjelang Maghrib.

 

Koordinasi lapangan yang bagus dari Tim Koorlap HME membuat acara siang itu rapih. Untuk acara puncak, juga panitia diminta menghadirkan sesuatu yang baru. Perang air yang legendaris sudah dilarang. Perang bola kertas pada Mitologi Yunani dinilai kurang seru. Akhirnya, tarik tambang menjadi keputusan. Menurut Rahadian ET’10 selaku kadiv acara siang, rencananya tarik tambang dilakukan 4 sisi dengan genangan oli di tengah. “Acara puncak dimulai setelah Maghrib, langit udah gelap dan udah antiklimaks. Jadinya peserta permainan cuma sedikit, dan lagi teknis permainan juga kurang sempurna ” kata salah satu panitia. Tampaknya acara puncak siang masih jadi PR untuk dipikirkan panitia pada wisudaan edisi berikutnya. [“AR]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s